Alkisah Puan Dan Tuan


Suatu hari seorang puan duduk bersandingan dengan tuan. Mata sang puan menyiratkan kepedihan. Ada hati yang terbakar disana. Menghembuskan bau sangit yang hanya bisa dihidu oleh hati. Begitulah perempuan. Sifat dasarnya tak mau berbagi, tapi selalu tak berkeberatan memberi. “Kamu cemburu?” Sang tuan bertanya. “Aku? Cemburu? Untuk apa?” Dan ini lah sifat perempuan yang kedua.

Hide And Seek


Pintu terbuka, dan kamu masuk ke ruangan ini. Kamar kita masih remang, padahal aku lebih suka terang. Aku bisa melihat raut wajahmu lebih jelas jika lampu menyala. Namun, hari ini kubiarkan remang seharian. “Hai.” Sapaku ketika kamu menampakan wajah di ambang pintu. Aku tersenyum lega. Mendapatimu pulang dengan aman dan menghidu bau keringat di lekukan

The Journey (Part 6)


“Permisi, aku ke mushalla sebentar ya? “ Ale beranjak dan akan meninggalkanku di dek. Masih mengagumi pemandangan yang aku lihat. “Eh kamu tidak apa-apa aku tinggal sebentar?” Aku melihat sekeliling, banyak orang yang asik dengan teman seperjalanannya dan beberapa dari mereka tertidur pulas di lantai. Aku mengangguk yakin. “Ya, tidak apa.” Sepeninggal Ale, aku jadi

Batu dan Harimau Putih (?) : Astral


Kegelapan begitu pekat, udara dingin menusuk dan aku sadar aku berjalan tanpa alas kaki. Meski aku tak membawa penerangan, seolah ada lingkaran cahaya yang menunjukan kemana aku harus berjalan. Tempat ini asing, seperti hutan belantara yang ranting pohonnya berlomba menutupi jatuhnya cahaya. Aku tiba di sebuah lapangan yang dikelilingi pohon besar berakar menonjol di atas

Deja vu


Aku rasa pernah mendengar kata-kata itu. Bukan darimu, tapi darinya. Seketika aku tau, aku deja vu-mu. Kau tahu sakit yang aku rasa? Bukan karena kau mengatakan hal yang sama padaku, juga dirinya. Tapi karena mulai sekarang aku akan selalu bertanya. Segala sesuatu yg kau ucapkan, apakah itu repetisi masa lalumu dengannya? Siapa yang kau lihat?

1 3 4 5 6 7 55

About me

Firah

Categories

Archives