[Review] Feet Up Cooling Breeze


Musim hujan tlah tibaaa.. dan berarti musimnya nulis blog. *trus apa hubungannya pir?* Eniweyy blom nemu bahan buat nulis fiksi lagi, jadi aku mau berkeluh kesah ajalah. Masalah yg sekarang terjadi adalah kaki gue kering sangaaat. Akibat perubahan cuaca kayaknya, dan pake lotion itu ga ngaruh. Cuma kerasa licin doang, tapi ga bikin kaki kerasa

Neutrino


Tidak pernah terpikirkan olehku untuk berada di sini, bersamanya. Bukan berarti aku tidak menyukainya, sebaliknya malah. Hanya saja setelah apa yang terjadi beberapa tahun ke belakang, aku masih takjub dengan kehadirannya di sisiku. Dia bisa saja dengan mudah meninggalkanku, karena beberapa kali aku terjatuh, mengulang kesalahan yang sama, bahkan sempat terpikir untuk pergi darinya. Meninggalkannya

Puanku Dan Jejak Gincu Di Bibir Kaleng


Perempuan itu masih memegangi kaleng kopinya. Memandangi rintik hujan yang mengamuk siang ini. Masih terlihat jejak gincu merah muda di bibir kaleng. Ah, buatku iri saja, kau kaleng. Musim hujan selalu menjadi musim yang dia tunggu. Meski sering kali dia meringkuk kedinginan tak kuat akan serbuan cuaca yang menggodanya dari sela-sela jendela dan pintu. “Hujan

Belajar Kepada Matahari


Seharusnya aku belajar menyerah seperti matahari. Dia yang tahu kapan harus muncul, kapan harus bersinar terik, dan yang paling penting, tahu kapan harus menyerah pada langit malam. Begitu seharusnya aku. Aku bisa saja berhenti menunggu saatnya kami bersama dan melanjutkan langkahku. Tapi aku malah menunggu di sini. Seperti dahulu aku menunggu di halte bus untuk

About me

Firah

Categories

Archives