Tuhan, selera humor-Mu lucu.

Tadi malam, seorang sahabat menyebut nama saya dalam sebuah postingan instastory. Dia mengatakan kalau saya adalah personal blogger. Seketika tertampar lah jiwa dan raga ini karena saya sendiri hampir lupa kapan terakhir kali saya posting di sini. Tapi dipikir memang ada satu hal yang perlu saya ceritakan. Jadi ini lah sekarang saya menulis (lagi).

 

Dari dulu saya selalu dibuat terkejut oleh Allah S.W.T. yang entah kenapa di saat saya merasa sesuatu hal tidak mungkin, dia mewujudkannya dalm selipan waktu yang membuat saya terkejut. Dan kemarin Dia melakukannya lagi. Saya ingat pada saat kuliah, ada keinginan saya untuk bekerja di gedung pencakar langit di jakarta. Melenggang dengan pakaian kerja a la film series Ally McBeal. Suatu hal yang jika dilihat dari mata kuliah menjadi agak tidak mungkin. Karena yang memungkin kan saat itu saya melenggang di rumah sakit dengan pakaian a la Grey Anatomy. Gak pernah sekalipun saya menyesal, justru saya bangga saat itu saya akan mengenakan jubah snell.

Dan seketika Dia mengeluarkan leluconnya. Diubahlah jalan cerita hidup saya. Tiga tahun menggeluti dunia start up, mengasah sesuatu yang tadinya tidak mungkin saya lakukan, menjadi sesuatu yang paling bisa saya andalkan  sebagai super power saya. Dan sebagai bonus, ya Dia membuat saya memasuki hampir setiap gedung pencakar langit di Jakarta dengan pakaian a la Ally McBeal. Apakah saya bahagia? Beyond!

Dan satu lagi yang membuat saya tidak habis pikir, apakah Dia memang sebegitu sayangnya pada saya, atau dia hanya bercanda dengan membuktikan satu persatu yang saya pikir itu tidak mungkin. Saya ingat dengan jelas, pada hari dimana salah satu teman saya pindah kerja dengan gaji yang luar biasa jika dibandingkan dengan gaji saya, saya mengucapkan selamat dan ikut meloncat senang. Lalu dalam hati saya berkata, “Ya Allah kapan ya saya bisa dapet gaji … (saya menyebutkan angka spesifik)?” Pada saat itu jauuuuuuh dari mungkin karena gaji yang saya sebutkan berkali-kali lipat yang jika dihitung dengan matematika manusia, saya harus naik jabatan entah berapa kali.

Dan kembalilah Dia bercanda dengan nasib seseorang. Qadarullah diberi kesempatan dengan nominal yang saya sebutkan dengan spesifik. Dia selalu membuat saya tercengang dengan kemampuan-Nya menyayangi hamba-Nya. Tapi sekaligus buat saya ngeri juga, bayangkan seberapa hancur hidup saya kalau Dia tidak lagi mencintai saya.

 

 

ps: tulisan ini ditulis tanggal 19 January 2018

No Comments Yet.

Leave a Comment