Tidak Butuh Puisi

image

Pagi tadi saya menatap layar ponsel. Lama. Maksud hati ingin menulis sebait puisi untuk dia. Sudah lama sekali saya tidak membuat puisi dengan nama dia. Tapi pagi tadi saya malah terpekur tidak bisa merangkai kata.

Seperti biasa Lalu saya mengingat momen-momen kebelakang, apa yang kira-kira membuat saya menjadi mengalami writer’s block saat menulis puisi untuk dia. Selama ini saya banyak menulis puisi atau twit puitis, tapi tidak ada satupun yang menyertakan nama dia. Seolah-olah ada dinding psikologis yang membuat saya kehilangan kata-kata. Tapi tidak demikian jika saya menulis cerita yang terinspirasi dari diri dia.

Lamunan saya akhirnya tiba ke kejadian setahun lalu. Tepatnya tanggal 11 November 2011. Saat itu kami beradu argumen. Bertengkar seperti biasa yang dilakukan pasangan. Setelah kami akhirnya kembali ke kamar masing-masing dalam keadaan marah, saya mengirimkan sebuah pesan singkat berupa puisi permintaan maaf. Tapi dia yang (mungkin) masih marah membalas dengan kata-kata “Saya tidak butuh puisi kamu!” Dan saya tersinggung amat dalam.

Paginya kami bertemu di lobi hotel, *saat itu kami sedang liburan di jogja bersama keluarganya* segalanya sudah tenang dan kami sudah berbaikan. Tapi satu hal yang berubah, sejak aaat itu saya tidak pernah bisa menulis puisi untuknya. Mungkin harga diri saya yang terluka, atau mungkin sugesti “tidak butuh puisi” itu tertanam dalam alam bawah sadar saya sehingga setiap saya akan menuliskan puisi untuknya, otak saya menolak. Atau hati? Entahlah.

Saya harap setelah saya tau penyebabnya, saya bisa menuliskan bait-bait puisi lagi. Untuk dia.

(2) Comments

  • Kampung Fiksi
    02 Nov 2012

    Semoga bait2 puisi itu bisa terangkai lagi untuknya

    • Firah
      03 Nov 2012

      Makasih, min. Amiiin 🙂

Leave a Comment