The Love Next Door #3

Sudah empat hari aku tidak melihat Felisha. Mungkin sedang sibuk di kantornya. Biasanya hampir setiap sore dia akan mendatangi kamarku dan berbuat semaunya di sana. Tapi beberapa hari ini sepi. Ada yang hilang jika aku tidak mendengar repetan omelannya karena aku malas mandi sore.

Mandi sore, nampaknya enak juga, apalagi sore ini udara begitu lembab. Aku beranjak ke dak tempat jemuran berada untuk mengambil handukku. Dari sana aku dapat melihat kamar Felisha yang gelap dan tertutup. Tampaknya dia memang sedang sibuk.

Baru saja aku hendak beranjak dan pergi mandi ketika aku dengar suara batuk dari kamarnya. Aku pikir itu hanya ilusiku, namun ternyata bukan. Sekali lagi suara batuk terdengar, kali ini lebih keras.

“Fel, lo di dalem, Nyet?”

Hening. Aku mengetuk sekali lagi. “Fel, gue tau lo di dalem. Buka pinturnya!”

Tak lama suara kunci terbuka dan dia terlihat begitu berantakan. Rambutnya kusut masai,wajahnya pucat dan astaga, badannya panas sekali ketika aku raba keningnya.

Dia hanya berbaring di tempat tidur,terlihat lemah dan tak berdaya. “Lo sakit, Fel?” Oke  itu pertanyaan paling jenius dari otakku yang khawatir melihat keadaannya.

“Gak lah. Gue cuma acting doang.” Bahkan saat sakit seperti itu saja dia masih bisa bercanda.

“Lo udah ke dokter?”

Dia mengggeleng. “Gue males ke dokter. Dokter tuh bisanya cuma nyolek-nyolek doang trus nulis resep, abis gitu minta di bayar mahal. Ogah gue!”

“Batu lo, Nyet!” Felisha dalam keadaan sakit atau sehat selalu keras kepala. Maksud sehat di sini adalah raganya, karena dia sudah punya penyakit jiwa sejak lama. Sarap kronis. Otaknya kurang sesendok dari takaran yang diberikan Tuhan.

Aku meraba keningnya sekali lagi, juga lengannya yang sama-sama panas. Setidaknya lebih dari 38 derajat celsius.

“Lo udah makan, tapi kan?”

“Iya nanti gue makan. Masih agak lemes.” Katanya sambil memijat pelipisnya. Dengan demam setinggi itu pasti kepalanya terasa pusing.

“Sekarang gue ambilin ya? Gue suapin biar lo ga usah bangun.”

“Eh.. ga usah.. ehm.. biar gue ambil sendiri nanti.” Elaknya.

“Gak. Gue ambilin sekarang.” Aku bangkit hendak berjalan menuju dapur di rumahnya, tapi tangannya mencegahku.

“Biar gue ambil sendiri.” Ada sekelebat nada yang berbeda di suaranya. Mungkin marah atau sekedar perintah. Yang  pasti dia tidak ingin dibantah.

Aku membantunya turun dari tempat tidur, kemudian memapahnya menuju dapur. Dia kemudian merajang air.

“Lo bikin apa?” Tanyaku melihat ke meja makannya yang kosong.

“Mie instan.”

Aku terkejut. “Lo sakit begini dan masih makan mie instan? Dapet gizi dari mana? Bentar gue ambilin lauk dari rumah.”

“Gak usah. Gue gak masalah, yang penting gue masih bisa makan kan?”

Aku melihat ke atas meja mmakan. Mencari-cari di lemari makanan. “Ga ada makanan sama sekali?”

“Gak ada hehe. Gaji gue belom turun dari kantor.”

Aku menatap wajahnya yang pucat. Felisha pasti tidak punya uang untuk beli makanan, tapi tidak mau mengakuinya padaku. Dia selalu seperti itu sejak dulu. Menurutnya hanya kebahagiaan yang patut dibagi, sedangkan kesulitan tidak boleh ditunjukan karena itu suatu kelemahan.

“Udah jangan banyak protes! Gue ambil makanan dari rumah. Bentar.”

“Gue bilang ga usah,Cay!” Nadanya membentak. Ada sedikit air mata yang akan jatuh di sudut matanya. Kali ini aku tidak akan menuruti perintahnya. Dia sakit, dan harus makan.

“Tapi lo belom makan sama sekali,kan? Dari kapan? Tadi pagi? Atau kemaren?”

Dia hanya terdiam. Memandang air yang mulai berbuih.  “Udah lah, Cai, gue gak butuh dikasihani. Gue makan seadanya aja.”

Aku naik pitam melihat tingkahnya yang keras kepala. “Gue bukan kasihan ama lo! Gue pernah nguburin jasad adik gue, dan gue ga mau nguburin sahabat gue. Hanya karena penyakit keras kepalanya ama gengsi yang ga sembuh!”

Kami sama-sama terdiam. Dia nampak terkejut dengan kata-kataku, dan aku juga sama tidak percaya bisa membentaknya seperti itu.

“Gue balik dulu ya? Gue cuma gak mau sesuatu terjadi sama lo. Gue perduli,bukan kasihan. Gue sayang sama lo.” Iya Fel, gue sayang sama lo, lebih dari yang lo kira.

Aku bergegas pulang ke rumah. Mengambil makan yang ada di dapur. Kalau nanti Mamaku bertanya, aku tinggal bilang aku kesurupan sampai tidak tahu seberapa banyak yang aku makan. Ah pokoknya nanti sajalah aku jelaskan. Pikirku sambil membungkus semua makanan itu. Tidak lupa aku masukan obat antipiretik dari kotak obat.

Kami sedang berada di ruang makan saat ibu Felisha datang. Wajahnya percis seperti Felisha, hanya ada kerutan-kerutan yang membuatnya lebih tua dari umurnya.

“Eh ada Nirwana. Udah lama?” Lalu dia menoleh pada makanan yang ada di atas meja makan. “Lho, ini makanan dari mana? Pasti kamu yang repot-repot bawain ya,Wan?”

Aku tersenyum dan salah tingkah. Aku khawatir menyinggung perasaan ibu Felisha. Ibunya sudah seperti ibuku sendiri.

“Maaf ya, kami jadi ngerepotin kamu sama keluargamu. Ibu ga bisa balas apa-apa. Semoga Tuhan yang balas lebih besar,ya?” Dia membelai wajahku. Sama seperti yang biasa dia lakukan pada anak satu-satunya.

Keluarga ini adalah keluarga paling tegar yang aku tahu. Setelah ayahnya meninggalkan mereka, semua tanggung jawab berada di pundak Felisha. Karena pada saat itu ibunya terlalu shock. Kuliahnya harus pindah demi mendapatkan SPP yang lebih murah. Tapi yang paling luar biasa dari mereka, mereka tidak pernah meminta.

Gambar diambil dari sini

No Comments Yet.

Leave a Comment