The Love Next Door #2

“Ada jari yang tergenggam satu-satu.
Aku. Kamu. Pagi itu.”

Langkah kami terburu-buru. Berderap di sepanjang gang yang menghubungkan rumah kami pada jalan raya. Aku melirik jam tanganku pukul 06.08. Masih ada waktu beberapa menit lagi. Aku terus berlari sambil sesekali melirik ke belakang. Felisha mensejajari langkahku, sama terlambatnya dengan aku. Aku koreksi, dia yang terlambat, bukan aku. Aku sudah siap menunggu di teras rumahnya sejak setengah enam, tapi dia malah belum bersiap-siap.

Dan memang sulit untuk tepat waktu. Kebiasaan buruk yang selalu aku protes. Jika aku protes, jawabannya selalu sama, “Yang penting gak telat, kan?”.

Ada pekik terkejut yang menghentikan langkahku. Aku terhenti dan melihat Felisha sedikit hilang keseimbangan. Stiletto yang ia kenakan menghambat langkahnya.

“Aduh udah gue bilang lo pake sendal jepit aja dulu dari rumah.”

Felisha hanya manyun, tidak menjawab apapun. Aku meraih tangannya dan menggenggamnya. “Makanya kalo pake sepatu gituan hati-hati.”

Ada sepersekian detik saat jantungku berhenti bekerja, saat tanganku menyentuh kulitnya. Padahal hal ini sudah sering aku lakukan. Jalan sambil bergandengan tangan, maksudku. Jika bukan aku yang menggenggam tangannya, Felisha yang menggandeng lenganku.  Hanya saja saat ini berbeda. Entah kenapa.

Mungkin saja karena Felisha nampak berbeda pagi ini. Aku tidak megatakan dia nampak cantik, karena setiap hari, apapun baju yang ia kenakan, pasti selalu nampak cantik di mataku.

06.11 Langkah kami masih cepat dan terburu-buru. Tapi lebih lambat dari sebelumnya. Aku tidak mau Felisha terjatuh atau tiba-tiba terkilir.

“Cay, bentar lagi busnya berangkat!” Felisha memelas.

“Belom, masih ada beberapa menit lagi.” Hiburku. Bus kami berangkat pukul enam lebih lima belas menit. Jika kami terlambat naik bus ini maka kami harus menunggu setengah jam lagi untuk bus selanjutnya. Dan lalu lintas setelah jam setengah tujuh adalah mimpi buruk.

Kami tiba di jalan raya tepat pada saat bus mulai bergerak dari shelter. Aku menatap bus trans dengan panik. “Aaa..Fel, buru! Busnya!” Felisha mengerti dan akhirnya berlari juga menuju shelter. Tapi kami sudah terlambat.

Aku mencari-cari oksigen untuk paru-paruku. Terengah, begitu juga Felisha.

“Kita terlambat.” Katanya kecewa. Marah pada dirinya sendiri.

Hari ini Felisha tidak boleh terlambat, karena ada event yang dia organisir sejak lama dan hari ini pelaksanaannya. Event ini mempertauhkan segala yang dia telah lakukan, malam-malam tanpa tidur, ide-ide yang diperhitungkan secara matang, dan juga pekerjaannya.

Tanpa pikir panjang, aku menghentikan taksi. “Lo gila? Darimana gue dapet duit buat bayar taksi? Tempatnya kan jauh.” Felisha mencegahku.

“Udah lo ikut aja!” Aku menariknya agar bergegas naik ke dalam taksi.

Dengan mantap aku menyebutkan nama daerah pada pak supir yang sedang bekerja. “Lha? Kita mau kemana, Cay? Itu kan bukan tempat acaranya.” Felisha duduk tegak sambil memelintir ujung roknya yang selutut. Itu salah satu tanda dia sedang panik, sama seperi saat dia harus tampil membacakan puisi di acara perpisahan SD.

“Gue kan minta lo ikut aja. Udah deh ga usah ribut.” Sahutku galak.

Felisha terdiam, duduk sambil berpura-pura tenang menyembunyikan kepanikan meskipun aku bisa melihatnya dengan jelas. Sepuluh menit selanjutnya kami hanya terdiam di kursi belakang sebuah taksi yang membelah jalanan kota. Aku berdoa dalam hati semoga usahaku tidak sia-sia. Felisga juga terdiam, sambil melirik sesekali (atau lebih) ke argo taksi. Aku tahu yang dia cemaskan. Dia khawatir uangnya tidak cukup untuk membayar ongkos taksi.

“Di sini,mas?” Tanya sopir taksi. Aku meminta dia berhenti di shelter bus depan dan membayar ongkosnya.

Felisha masih membuntutiku dalam bingung. Aku hanya tersenyum geli. “Kalo berangkat dari shelter ini kita nasih bisa naik bus tadi. Masih ada lima menit sebelum bus sampe ke shelter ini. Yuk, jangan sampe kita terlambat lagi. Kecuali loy yang bayar taksinya kali ini.”

Felisha hanya tersenyum lebar,mengerti tujuanku. Seyum manis yang selalu aku bingkai dalam ingatanku.

Gambar diambil dari sini

No Comments Yet.

Leave a Comment