The Love Next Door #1

Bahagia itu sederhana. Seperti secangkir kopi di pagi hari setelah kau bergadang hingga dini hari. Dan bagiku bahagia itu ada pada senyum gadis yang aku cintai. Namanya Felisha. Yang senyumnya aku tunggu setiap pagi setiap aku menjemputnya ke sekolah. Sudah sewindu aku mencintainya dalam diam. Sejak saat aku masih mengenakan seragam putih biru, dan dia mengenakan seragam putih abu.

Dua tahun selisih usia kami. Dua tahun yang membuat aku hanya mampu memendam perasaanku karena sampai kapanpun aku akan dianggapnya sebagai seorang adik yang harus dilindungi.

Felisha dan aku tumbuh dan dewasa di lingkungan yang sama. Di lingkungan padat dengan rumah yang rapat. Rumah kami bersebelahan,hanya dibatasi dengan dinding yang tidak terlalu tebal, sehingga suara televisi dari rumahnya masih terdengar ke rumah kami.

Dia orang pertama yang mengajariku bermain gundu, dia juga yang pertama kali melihatku menerbangkan layanganku di atap rumah. Aku adalah orang yang paling mengenal dia. Sayangnya dia tidak mengenalku sebaik itu, setidaknya dia tidak pernah mengenali perasaan yang berusaha aku tunjukan selama ini.

Aku sedang memperhatikan layar komputerku sambil menikmati senyumnya dari foto yang aku ambil saat acara tujuh belasan tahun kemarin saat suara ketukan kasar terdengar dari pintu kamar. Dengan buru-buru aku tekan tanda silang di sudut layar. Felisha masuk tanpa menunggu izin pemilik kamar, sama seperti biasanya.

Kali ini dia nampak kerepotan dengan file, karton dan entah apa lagi yang dia bawa dalam pelukannya. Kemudian dia meletakannya begitu saja hingga handphonenya ikut jatuh mencium lantai.

“Pelan-pelan, napa?” Kataku melihat tingkahnya yang serampangan.

“Cay, bantuin gue bikinin flash donk. Buat acara ulang tahun bulan depan.” Pintanya tanpa intro.
“Gue kan ga bisa grafis. Kalo program sih ga masalah.” Kataku masih takjub dengan segala benda yang dia bawa.

Felisha tidak memandangku,masih sibuk membentangkan karton yang bertuliskan peta konsep acara. Setahun ini dia memang bekerja di sebuah event organizer. “Tapi diajarin di kuliah kan?”

“Iya. Tapi..”

“Berarti bisa. Urusan gue beres satu.” Dia tersenyum sambil mencentang salah satu listnya.

“Eh kok?”

Begitulah Felisha. Apapun yang dia minta padaku takkan mampu aku tolak.

Selama dua jam berikutnya dia terus berkutat dengan pekerjaannya, kadang bicara sendiri, dan kadang sesekali menelpon vendor. Aku perhatikan wajahnya yang nampak lelah. Pasti beberapa hari ini dia kurang tidur. Menjadi tulang punggung keluarga di usia muda memang sulit. Sebagai anak tunggal yang hanya tinggal berdua dengan ibunya, Felisha harus membanting tulang membiayai kehidupan mereka. Itu salah satu yang membuatku kagum padanya. Felisha jauh dari kesan manja yang biasanya di dapat dari anak tunggal kebanyakan.

“Lo masih betah kerja di sana? Padahal ga nyambung ama kuliah yang lo ambil.”

Dia menghela nafas panjang. Terdiam sebelum akhirnya menjawab. “Saat ini bukan waktunya mikirin apa yang sesuai dengan kuliah yang gue ambil, Cay. Apa yang ada dihadapan gue, itu yang gue kerjain.”

Aku mengerti, mendapatkan pekerjaan saat ini merupakan hal yang sulit. Sudah untung bagi lulusan baru seperti Felisha langsung mendapatkan pekerjaan tanpa kesulitan mencari. Ditambah lagi dengan desakan ekonomi keluarganya, mencari pekerjaan yang sesuai dengan titel sarjana sainsnya bukan suatu yang terlalu penting.

No Comments Yet.

Leave a Comment