The Love Next Door #1 (cont)

Aku mengerti, mendapatkan pekerjaan saat ini merupakan hal yang sulit. Sudah untung bagi lulusan baru seperti Felisha langsung mendapatkan pekerjaan tanpa kesulitan mencari. Ditambah lagi dengan desakan ekonomi keluarganya, mencari pekerjaan yang sesuai dengan titel sarjana sainsnya bukan suatu yang terlalu penting.

“Kapan lo terkhir makan?” Matanya yang cekung dan wajah tirus memaksaku bertanya.

Felisha hanya mengangkat bahu dan terkekeh. “Lupa. Tapi kopi udah dua kali.”  Aku menghela nafas dan menggeleng, tidak mengerti bagaimana mungkin dia kuat menahan lapar selama ini.

Tanpa bicara aku beranjak menuju dapur, mengambil sepiring nasi beserta lauknya. Di hadapannya, aku meletakkan sepiring nasi dan mengeluarkan perintah, “Makan!”.

Untuk urusan makan aku tidak mau dibantah. Tidak peduli aku dibilang kurang ajar, misiku kali ini adalah memaksanya mendapatkan asupan gizi sebanyak mungkin.

“Aaah.. ntar aja. Gue masih kenyang.” Rengeknya. Pasti  selalu begitu. Hanya di depanku dia tidak malu bermanja-manja. Aku menghela nafas guna mengumpulkan kesabaran menghadapi makhluk keras kepala ini. Satu suap makanan aku paksa masuk ke dalam mulutnya. “Aaaa!” Mataku melotot menegaskan

Tanpa perlawanan berarti dia hanya membuka mulut dan mulai mengunyah. Suap demi suap dia terima tanpa perlawanan. Sudah aku duga dia sebenarnya lapar, hanya saja malas untuk makan. Entah sejak kapan kebutuhan primernya berubah bukan lagi sandang,pangan dan papan, tapi kopi dan kopi.

Jika ada satu hal yang selalu bisa mengingatkanku.pada Felisha itu adalah kopi. Tanpa secangkir kopi,otaknya tidak bisa bekerja. Segila itulah dia pada bubuk candu berwarna hitam itu.

Sepiring makanan telah tandas tanpa dia sadari. Felisha masih saja berkutat dengan pekerjaannya. Baru setelah suapan terakhir, dia  tersadar dan mengamuk.

“Lo suapin semuanya? Lo gak makan?”

Aku hanya tersenyum menahan ketawa. Kapan  lagi kan dia makan sebanyak itu. Aku puas.

“Sialan lo. Gue jadi kekenyangan banget ini!” Dia melotot.

“Biarin. Yang penting lo makan.” Sahutku sambil membereskan piring dan beranjak ke dapur.

Felisha..apakah kau memang sebodoh itu? Tidak dapat melihat apa yang aku rasakan padamu selama ini. Mungkinkah karena aku selalu ada di sisimu setiap waktu, hingga aku bagimu hanya seperti udara hampa. Tak terlihat.

……..More

No Comments Yet.

Leave a Comment