The Journey (Part 6)

“Permisi, aku ke mushalla sebentar ya? “ Ale beranjak dan akan meninggalkanku di dek. Masih mengagumi pemandangan yang aku lihat. “Eh kamu tidak apa-apa aku tinggal sebentar?”

Aku melihat sekeliling, banyak orang yang asik dengan teman seperjalanannya dan beberapa dari mereka tertidur pulas di lantai. Aku mengangguk yakin. “Ya, tidak apa.”

Sepeninggal Ale, aku jadi agak was-was. Beberapa pria yang merokok di pojokan memandangiku dengan cara yang tidak sopan. Satu diantaranya menyeringai sambil menunjukku ternga-terangan. Aku menggulung kabel earphone dan langsung berdiri.

Dimana mushalla itu. Sepertinya aku menyusul Ale saja. Biasanya aku selalu merasa aman berpergian sendiri. Aku bukan wanita yang suka membuat orang lain bersusah payah untuk menjemputku dan menunggu aku bersiap. Aku juga bukan wanita yang harus selalu dituruti keinginannya. Aku lebih suka berusaha sendiri. Jika aku memiliki janji untuk bertemu dengan Kelana, aku memilih untuk bertemu di tempat yang sudah dijanjikan, daripada menunggu Kelana datang menjemputku. Bukannya aku tidak ingin dimanja, hanya saja menurutku, dengan kondisi lalu lintas ibu kota dan jarak apartemen Kelana dan rumahku yang berjauhan, akan lebih efektif jika kami pergi dan pulang masing-masing.

Tidak ada yang salah dengan menjadi wanita mandiri. Setidaknya itu pendapatku. Sayangnya Kelana tidak demikian. Mungkin dia merasa aku tidak membutuhkannya dan akhirnya dia malah pergi dengan wanita lain yang membuat dirinya merasa dibutuhkan.

Hampir saja aku melewati sebuah ruangan yang dibuat seadanya. Hanya sebuah ruangan dibatasi partisi dan bertuliskan ‘MUSHALLA’ dari kertas HVS yang dilaminating.

Di sana nampak Ale sedang menunaikan shalat. Anak rambutnya masih basah oleh sisa air wudhu, matanya terpejam dan Nampak sangat khusuk. Entah sudah berapa lama aku tidak beribadah. Lingkunganku tumbuh mengajarkan aku untuk menjadi manusia yang baik. Tapi, tidak sebagai umat agama tertentu. Orang tuaku agak longgar masalah agama menjadikanku berfikir bahwa apapun agamamu, semua sama, mengajarkan kebaikan.

Aku masuk ke dalam mushala, canggung karena tidak tahu harus apa. Hanya mengambil tempat di pojokan dan menunggu Ale selesai shalat. Mau tidak mau aku memperhatikan Ale dari belakang. Ketika dia berdoa, wajahnya tenang dan nampak manis. Eh..apa tadi aku bilang? Manis? Aku pasti sudah mabuk laut. Aku harus mengenyahkan pikiran itu. Aku bahkan tidak tahu siapa Ale sebenarnya. Bisa saja dia orang jahat yang berusaha mendapat simpatiku, lalu menipuku. Aku sebaiknya berjaga-jaga.

Ale nampak telah selesai berdoa, dan mengeluarkan dompetnya. Dia terpekur melihat dompetnya, perlahan ada air mata yang terlihat merembes di sudut matanya. Aku terkejut, juga iba. Wajah Ale yang biasanya terlihat sombong, kadang menyebalkan, menjadi rapuh. Seolah kebahagiaan dan sikap menyebalkan yang dia perlihatkan kepadaku adalah benteng untuk menyembunyikan itu semua.

Ragu-ragu aku mendekatinya. Rupanya dia sedang menatap foto yang ada di dompetnya. Fotonya dan seorang gadis cantik. Rambutnya ikal kecoklatan. Tangan Ale memeluknya dari belakang, latar belakangnya asing. Mungkin suatu tempat ketika mereka berkencan. Satu hal yang aku perhatikan. Ekspresi keduanya di foto itu begitu bahagia. Bukan foto professional, hanya jepretan kamera biasa, namun ada rasa bahagia yang memancar dari sana.

“Foto siapa itu?” aku tak tahan ingin bertanya. Ale terperanjat dan buru-buru menghapus air mta di wajahnya.

“Eh umh.. dia.. pacarku.” Jawabnya salah tingkah. Pacar? Lalu kenapa dia menangis saat melihat foto itu? Apa sudah putus? Banyak pertanyaan yang muncul, tapi tidak aku lontarkan. Aku sendiri belum mengenal dia, dan baru saja aku mengomeli dia karena banyak tanya, aku tidak ingin dia membalikan kata-kataku tadi.

(2) Comments

  • Nirwana
    15 Oct 2014

    Well, not bad buat come back nya Hana. Walau ada beberapa bagian yang gak sinkron ama partnya Ale.:p

    • Firah Aziz
      15 Oct 2014

      Yang mananyaaa?? Sinkron ah

Leave a Comment