The Journey Part 4 (Hana’s Side)

The Journey Part 4 (Ale’s Side)

Udara di pelabuhan terasa panas dan kering. Kaos putih yang aku kenakan menjadi basah karena keringatku sendiri. Untunglah aku mengenakan tanktop warna gelap. Udara di sini sungguh sebuah mimpi buruk.

Aku menatap handphone-ku, mencari-cari dari internet informasi mengenai kota tujuanku. Bukittinggi. Untunglah di sana disebutkan kota itu berudara sejuk. Aku benci udara Jakarta, meskipun tidak berapa jauh jika dibandingkan Jepang ketika musim panas.

Busku menyalakan mesinnya. Entah karena akan segera naik ke atas kapal ataupun hanya memanaskan mesinnya kembali. Masa bodohlah. Aku butuh penyejuk udara. Aku membeli beberapa makanan ringan dan air mineral untuk bekal perjalananku aku tidak sempat membeli apa-apa di Rawa Mangun tadi.

“Udara panas begini enaknya Caramel  Machiato.” Kelana muncul lagi di pikiranku. Jika dia sudah berkata seperti itu aku biasa mendebatnya dengan pilihanku. “Green Tea Blended lebih enak!”.

Aku harus mengenyahkan Kelana dari pikiranku. Untuk selamanya. Bukankah ini tujuanku meninggalkan Jakarta dan kegiatanku di sana. Pergi sejauh mungkin.

Belum ada siapapun di atas bus. Sopir bus pun masih di luar. Aku duduk sendirian memutar ipod-ku keras-keras sambil memperhatikan suasana di luar. Penyejuk udara membantu mengurangi produksi keringatku.

Aku terpejam mendengarkan lagu yang dinyanyikan Myles Kennedy. Seolah berkata padaku.

They said you’re right.
I hope I’m wrong.
I know that you tried.
But still it is gone

Just don’t you lost hope.
I swear i never dream that we’re alone.
Now don’t you let go.
I swear i still believe though i don’t  know.
(Words Darker Than Their Wings – Alterbridge)

Meski tanpa Kelana aku harus terus percaya, ada kisah indah untukku nanti.

Beberapa penumpang lain mulai menaiki bus. Hingga bus berjalan penumpang di sampingku belum muncul. Aku berusaha tidak peduli, tapi kemana dia? Apa dia tertinggal?

Bus mulai berjalan, sopir bus bertanya sesuatu pada para penumpang, namun aku tidak terlalu menyimak. Hanya fokus pada lagu yang diputar ipod-ku.

Sesaat setelah bus akan memasuki jembatan penghubung dermaga dan kapal feri yang akan membawaku ke pulau Sumatera, penumpang yang duduk di sampingku berlari mengejar bus. Sopir bus sedikit kesal namun tertawa setelah pria itu meminta maaf. Nampaknya tadi sang sopir menanyakan apakah semua penumpang sudah naik atau belum.

Pria itu hanya melirikku sekilas dan kembali mengambil tempatnya dan duduk diam hingga kami berada di atas kapal. Di atas kapal semua penumpang kembali turun dan sopir bus mematikan mesinnya.

Kali ini aku mengikuti sepasang kekasih yang bergandengan tangan menaiki tangga yang nampaknya menuju dek. Dengan langkah malas aku mengikuti dan berniat untuk menjauhi  pasangan itu. Entah mengapa aku menjadi gusar jika melihat pasangan yang terlihat mesra. Aku iri? Mungkin saja.

Kapal feri belum juga berangkat. Aku hanya memandangi air yang membelai badan kapal. Membayangkan jika nanti kapal ini akan mengalami nasib yang sama dengan Titanic. Aku tertawa sendiri membayangkan lamunanku yang konyol. Mana mungkin itu terjadi, paling kapal ini langsung tenggelam tidak akan seperti Titanic yang harus terbelah perlahan.

Lalu aku membayangkan akan ada kejadian tembak menembak seperti yang dialami Jack. Dan yang menjadi Jack adalah pria yang duduk di sampingku saat di bus tadi. Belum apa-apa nampaknya aku sudah mabuk laut hingga membayangkan peristiwa konyol seperti itu.

Sore sudah beranjak semakin tua ketika kapal mulai bergerak membelah gelombang. Aku menoleh dan bertatapan dengan pria di bus itu. Refleks aku teringat bayangan konyolku dan tersenyum. Dia nampak terkejut melihat senyumku, namun aku cepat-cepat memalingkan wajahku sebelum tertawa terbahak-bahak.

Angin yang berhembus membelai wajah dan rambutku terasa damai. Tak lama lagi matahari pasti akan terbenam dengan indah. Sepertinya aku mulai menikmati perjalanan ini.

1 Comment

Leave a Comment