The Journey Part 3 (Hana’s Side)

The Journey Part 3 (Ale’s Side)

Perjalananku membawaku semakin jauh. Jauh dari kantor, jauh dari Kelana, jauh dari Haha San. Rasanya saat ini aku ingin pulang saja ke pelukan Haha San, ibuku yang membesarkan aku sejak kecil. Aku yakin dia pasti bisa menenangkanku seperti saat aku SD dulu.

Saat itu aku pulang sekolah dengan berlari dan berurai air mata. Semua teman sekelasku mengejekku karena kulitku yang berbeda dengan mereka. Ibuku adalah orang Jepang tulen, dan ayahku adalah orang berkebangsaan Swedia,tapi aku berkulit kuning langsat khas Melayu.

Ya, aku adalah anak adopsi. Mereka merawatku sejak aku berusia empat tahun. Saat ayah bekerja di kedutaan. Usia sekolah dasar barulah aku mengikuti mereka pindah ke negara Sakura.

Kepulanganku ke Indonesia karena kewarganegaraanku yangg masih menjadi warga negara Indonesia. Tidak mudah mencari pekerjaan dengan statusku, meskipun aku telah lama tinggal di Jepang.

Lamunanku melayang ke negara tempatku dibesarkan. Sejuta kenangan yang menyeruak ketika aku mengingat Haha. Termasuk kenangan masa kecilku, Kelana. Perih rasanya aku mengenang wajahnya. Senyumnya yang selalu menghiburku saat bentoku jatuh, Kelana yang mengenalkanku pada negaraku sendiri, Kelana juga yang pernah aku cium pipinya di bawah guguran daun sakura.

Busku berhenti, membawaku kembali ke bumi. Beberapa penumpang beranjak turun, meninggalkan aku yang tidak tahu harus kemana. Apa kita sudah sampai?

Penumpang di sampingku bertanya, “Kamu tidak turun? Masih beberapa saat lagi kita naik kapal.”

Aku hanya melongo dan mengangguk. Diam-diam aku perhatikan orang-orang yang turun dari bus. Memperhatikan apa yang mereka lakukan dan kemana mereka beranjak. Aku benar-benar bingung karena tidak pernah berjalan sendirian sejauh ini.

Beberapa orang duduk di sebuah warung, merokok dan mengobrol. Beberapa anak kecil memanfaatkaan waktu untuk berlarian. Aku akhirnya membeli sebotol minuman dingin dan duduk di warung klontong.

Banyak truk dan bus yang sedang menunggu kapal pengangkut. Sebagian besar didominasi oleh truk pembawa kebutuhan pokok. Aku tidak terlalu memperhatikan sekelilingku karena terlalu konsentrasi dengan pemandangan yang ada di depanku. Baru kali ini aku berada di pelabuhan. menikmati hamparan air Selat Sunda yang membentang.

“Kamu sendirian?” Sapa seseorang. Ternyata itu adalah pria yg duduk di sebelahku di bus. “Aku selalu suka memandangi air laut. Nampak tenang dan misterius. Indah, ya?”

Aku hanya meliriknya sebentar, namun tidak menjawab. Aku sedang tidak ingin berbasa-basi.

“Kamu ga bawa barang banyak, tujuannya ke mana?”

Sekali lagi aku enggan menggubrisnya. Tidak sudi aku meladeni orang asing sok akrab seperti dia. Meskipun ada kesamaan dirinya dengan Kelana, tapi entah apa. Ah mengapa harus Kelana lagi?! Bentakku dalam hati.

“Hmm bakalan lama di sana?” Dia tetap gigih mengajakku ngobrol. Akhirnya aku tidak tahan. Dan menjawabnya.

“Masih lama kita naik kapal?”

Pria itu menjawab dengan senyum sumringah, usahanya berhasil membuatku bicara. “Sejam lagi kurang lebih. Menunggu antrian.”

“Selama itu kamu akan mengganggu aku dengan pertanyaan-pertanyaanmu? Kalau iya sebaiknya aku pindah tempat, karena aku tidak suka diganggu.”

Pria itu terdiam dan akhirnya melanjutkan bacaannya.

(2) Comments

Leave a Comment