Terracotta (Keping 1)

Bagi sy mencintai kamu berarti menunggu. Seperti menunggu hujan reda di pelataran toko saat sepulang sekolah. Dengan bau harum tanah basah, angin yang menembus tulang, dan rasa senang karena tak harus pulang cepat. Injury time untuk jiwa petualanganku yang memuncak.

Aku mencandu rasanya menunggu. Karena dengan menunggu kau dapat hadir melalui imaji. Setiap mimpi yang mucul setiap aku terjaga. Mimpi yang mendekatkan aku pada keadaan setengah gila. Tapi biar saja, bukankah orang bilang cinta memang gila?

Masih bolehkah aku memanggilmu suryaku? Karena aku tidak tahu bagaimana cara lain memanggilmu. Bagiku selamanya kau akan menjadi suryaku. Meski kadang kau terlihat seperti makhluk bulan yang berbicara dengan bahasa yang berbeda.

Seharusnya aku menjadi orang yang cerdas dan meninggalkanmu. Bukan menunggu seperti pelajar yang menunggu bus sekolahnya setiap pagi di tikungan yang sama. Berharap dia belum terlambat dan bus belum lewat. Namun seperti yang aku bilang tadi. Aku mencandu rasa menunggu. Karena dengan menunggu aku dapat membayangkan seribu cara kau hadir di depanku. Akankah kau tiba-tiba muncul di belakangku dan menepuk punggungku, menyungkingkan senyum seolah berkata, “Tadaaa..aku datang!”. Atau seperti yang biasa kau lakukan, berjalan ke arahku dengan senyum sebelahmu (senyummu memang tidak rata kiri kanan, sayang, makanya aku panggil senummu senyum sebelah), lalu tanpa bertanya apakan aku telah lama menunggu atau tidak, kau langsung meraih tanganku dan membawaku berjalan kaki. Ya, berjalan kaki karena kau sangat suka berjalan, terutama jika bersama ku katamu.

No Comments Yet.

Leave a Comment