Seorang pria datang memasuki sebuah waralaba. Pria itu kusut masai, dengan wajah yang tak kalah suram. Bel penanda pelanggan datang berbunyi, “ting tong!”

“Butuh apa?” Tanya penjaga toko berperut gendut dan berbau apak.

“Tawa.”

Lalu sang penjaga toko mengeluarkan strip kecil. “Ini Dex***amphetamine. Harganya satu jiwamu.”

Sang lelaki tertunduk sedih. “Aku tidak mampu membayar sebanyak itu.”

Dengan pandangan mengejek, sang penjaga toko mengembalikan strip obat itu pada tempatnya.

“Ada yang lebih murah?”

“Ada. Coba ini.” Selinting ganja disodorkan depan wajah pria itu. Baunya menusuk, tapi menggoda untuk dibakar.

“Aku mau!”

“Harganya satu kewarasanmu.”

Sang pria lagi-lagi merasa sedih. Kewarasannya hilang entah sejak kapan. “Aku tidak mampu membayarnya. Ada lagi? Yang bisa aku bayar.”

“Ada. Namanya ‘TEMAN’. Harganya gratis.”

Sebuah harapan muncul di mata pria menyedihkan itu. “Aku ambil! Lima!”

Kali ini sang pelayan toko tersenyum mengejek. “Stoknya habis. Kau harus cari sendiri.”

Cimahi, 24 September 2014

Share:
Written by firah39
Beri aku hujan, maka akan aku ceritakan. Beri aku bulan, maka akan aku nyanyikan. Beri aku dirimu, maka akan aku berikan jiwaku.