Talking To The Moon

Sakit itu adalah ketika kau mencintai begitu dalam tapi ternyata dia tidak mencintaimu. Sakit itu adalah ketika kau kira setelah pelukan hangat dan berbagi senja bersama sudah bisa menunjukan seberapa besar cintamu, dia yang kau cintai malah membiarkanmu pergi dan menemukan cintamu sendiri. Sakit itu adalah kamu yang membuatku harus berpaling menemukan jalanku yang tanpa kehadiranmu. Padahal selama ini aku berfikir kaulah yang akan menjadi garis cakrawala tempat mentari mengistirahatkan pijarnya.

I know you’re somewhere out there, somewhere far away
I want you back. I want you back.

Lagu Talking to the moon mengiringi perjalananku yang tidak tentu arah. Hari ini aku hanya ingin berlari dari kesendirianku. Dari dunia yang selalu ada bayanganmu. Tapi sepertinya tidak mungkin. Wajah kota ini sudah ternoda dengan kenangan-kenangan tentangmu, bahkan di sudut terkecil sekalipun.

“Bus ini nyaman. Suatu hari nanti kita akan menaiki bus dan melakukan tour keliling jawa. Mau?”

Kau berkata di sampingku. Aku mengerjapkan mata dan bayanganmu pun hilang. Sial, bahkan di atas bus seperti ini aku masih ingat perkataanmu beberapa bulan lalu. Bisakah aku hanya pergi lalu melupakanmu?

Air mataku menetes. I miss you, ujarku lirih.

Talking to the moon. Try to get to you.
I hope you’re on the other side talking to me too. Or am I fool.
Sit alone. And talking to the moon.

Aku berusaha menahan diriku untuk tidak bertanya sedang apa dirimu tanpa aku. Apakah kau sedang bahagia dalam pelukannya dan melupakanku sepenuhnya? Lalu silet mengiris hatiku dalam. Aku ingat dengan jelas sesaat sebelum pergi kau katakan akan mengejar cintanya. Dia yang dua tahun ini mengisi bayang-bayangmu. Jauh sebelum aku hadir di harimu.

Di sebuah taman tempat kita biasa menghabiskan sore, menatap monumen kebanggaan kota ini, aku menghentikan busku. Aku berjalan mencari tempat teduh dan mulai mengeluarkan buku sketsaku. Selama ini aku hilang kemampuan untuk menggambar, karena setiap torehan garis pinsilku selalu mengingatkanku akan dirimu. Aku terlalu terbiasa menggambar sambil ditemani dirimu yang juga asik mengambil objek dari kameramu.

Setelah satu jam aku menggambar, aku melihat sepasang muda-mudi yang duduk tidak jauh dariku. Mereka tertawa dan nampak bahagia. Aku teriris rindu sekali lagi. Aku palingkan wajahku yang hampir menangis.

Aku menatap layar ponsel. Menimbang-nimbang untuk menghubungimu. Sanggupkah aku menelan pil pahit lagi jika ternyata kau menampikku sekali lagi? Mampukah aku menurunkan harga diriku untuk menghubungimu terlebih dahulu setelah dua bulan ini kita menjaga jarak?

“Hai!” ada seseorang yang menyapaku menepuk pundakku. Aku membalikan badan dan mendapatimu di situ. Aku mengerjap namun kali ini kau tidak hilang. “Sedang apa kau di sini?” tanyamu.

“Sedang apa KAU di sini? Bukankah kau sudah pindah ke luar kota?”

Kau hanya mengangkat bahu dan tersenyum. “Aku mengurungkan niatku dan kembali ke sini. Sudah dua minggu aku di kota ini.”

Dua minggu dan dia tidak mengabariku barang sekalipun. Ternyata memang aku tidak seberharga itu.

Sebuah percakapan basa basi terjadi, dan kita menjadi dua kutub yang terasing. “Bagaimana dia?” tanyaku. Aku menutup telingaku berharap tak mendengar jawabanmu.

“Dia baik-baik saja.”

“Syukurlah. Apa kalian…em.. bersama?” Demi Tuhan aku tidak ingin mendengarkan jawaban iya.

“Yah begitulah.”vonis matiku dijatuhkan.

Aku tidak dapat membendung perasaanku. Air mata mulai menggenangi sudut mataku. “Baguslah. Akhirnya kau mendapatkan keinginanmu.” Aku tersenyum namun tampaknya dia bisa membaca lukaku yang aku sembunyikan dengan susah payah.

“Hey, ada apa?” tanyamu. Jika kau bisa membaca lukaku, knpa kau tidak bisa membaca cintaku sejak dulu, runtukku dalam hati.

Air mata mulai terkumpul dari rasa sakitku yang mencoba aku tahan dengan benteng gengsiku. Namun kali ini pertahanan terakhirku mulai runtuh perlahan-lahan. “Boleh aku minta peluk?” pintaku.

Kau terkejut mendengar permintaanku yang aneh. Namun kau menjulurkan sebelah tanganmu dan meraih kepalaku yang hanya setinggi dadamu.

“Selamat, ya?” aku berkata lirih. “Kau sudah bersama dirinya sekarang.”

Aku mencoba melepaskan diri darimu namun tanganmu menahan kepalaku.

“Iya kami bersama saat ini. Tapi tidak seperti yang kau bayangkan. Kami bersama sebagai seorang teman.”

Kali ini kau melepaskanku agar aku bisa melihat ekspresimu dan memastikan kau tidak bercanda. “Apa maksudmu?”

Kau mengambil tempat duduk dan memintaku untuk duduk mendengarkan. “Setelah aku menemuinya, aku bahagia. Tapi ada satu hal yang aku sadari, aku tidak mencintainya seperti dulu. Aku merasakan hal yang berbeda ketika bersamanya.

Dulu aku pikir aku akan merasakan perasaaan yang meluap-luap karena akhirnya bisa menemukan keberanian untuk mengutarakan cintaku. Tepat saat aku akan mengatakan padanya bahwa aku mencintainya, ternyata aku sadar jika aku tidak lagi mencintainya.

Apa yang aku rasakan hanya harapan yang belum tersampaikan.
Lalu aku sadar bahwa selama ini ada orang lain yang mengisi hatiku. Seseorang yang selalu melintas di bayanganku di manapun aku berada. Seseorang yang telah mengisi hari-hariku dengan cinta yang tulus namun tidak pernah aku sadari. Seseorang seperti kau.”

Aku kebingungan, “Seseorang seperti aku? Siapa?”

“Maksudku itu kamu, Nyong!” kamu tertawa dan mengacak rambutku gemas.

“Lho tadi kamu bilang seseorang SEPERTI aku, bukan aku.” Aku katakan dengan wajah polos dan berpura-pura kebingungan.

“Hei! Berhenti berpura-pura dan mengalihkan pembicaraan. Aku mengumpulkan keberanian selama dua minggu untuk mengutarakan cintaku, dan kau malah mempermasalahkan diksiku. Sekarang jawab saja kamu mau tidak jadi pacarku?!” katamu setengah berteriak hingga membuat orang-orang di sekitar menoleh dan tersenyum.

Aku hanya tersenyum usil dan berkata pelan, “Iya. Iya, aku mau. Tapi gak perlu teriak begitu, ih. Malu tau!”

Kau meraih belakang kepalaku dan mulai mengacak-acak rambutku, “Dasar Monyong!”

Aku hanya menjulurkan lidah dan kau memelukku. Kali ini aku tidak perlu berbicara pada bulan lagi. Aku memilikimu untuk berbagi cerita sampai kita tertidur kelelahan karena tertawa.

1 Comment

  • Dana Ortega
    10 Jan 2014

    I would love to see your work translated into English, something tells me what you write is beautiful

Leave a Comment