Surat (Bukan) Dariku #15HariMenulisFF

Suara panik Ryo terdengar panik di depan pintu kamarku.

“Gendis, buka pintunya, jangan lakukan hal itu!”

Aku menangis tersedu-sedu. Sebuah kaleng obat nyamuk terbuka di tanganku. Isinya masih belum berkurang sedikitpun.

Pintu kamarku terbuka dengan kasar. Ryo akhirnya memutuskan untuk mendobrak pintu kamar dan masuk dengan paksa. Menepis botol di tanganku dan memelukku erat. “Aku mohon, jangan lakukan ini. Untukku. Kamu mau, kan?”

Aku balas memeluknya, lelaki yang aku cintai. Ada senyum tersungging di wajahku. Kamu akhirnya memilihku.

Sehari Sebelumnya

Langkah kakiku mantap menuju sebuah rumah kontrakan tempat Ryo tinggal. Aku terpaku di depan pintunya. Ada sepucuk surat bertuliskan nama Ryo terselip di bawah pintunya.

Penuh rasa penasaran aku membuka dan membacanya.
“Ryo, yang aku cintai.

Aku tidak sanggup lagi. Aku minta kau untuk memilih antara aku dan dia. Jika tidak lebih baik aku mengakhiri hidupku. Aku tanpamu, tak akan ada artinya lagi. Aku tunggu kamu tengah hari besok. Aku harap kamu bisa memutuskan.”

Surat dari Layla, kekasih Ryo. Huh, ternyata dia sudah mengetahui hubunganku dengan Ryo.

Aku terkejut ketika sebuah suara terdengar dari balik pintu.

“Lho, Gendis? Lagi apa?” tanya Teguh temah satu kontrakan Ryo.

Otakku berfikir cepat. Mataku mulai berkaca-kaca. “Ryo ada?” tanyaku.
Teguh menggeleng dan keheranan melihatku yang hampir menangis.

“Tolong kasih ini untuk Ryo. Bilang dari aku.” Lalu aku pergi secepatnya, sebelum Teguh bertanya lebih banyak.

Hari Ini, Tengah Hari (Di tempat Layla)

Ryo tidak muncul bahkan tidak menghubungiku sama sekali. Akhirnya inilah saatnya. Selamat tinggal, Ryo. Kamu akhirnya memilih dia.
Sebuah sayatan akhirnya memotong urat nadiku.

(2) Comments

  • RuriOnline
    20 Jan 2012

    rasanya pingin banget noyor si Ryo,Gendis & Layla deh. geregetan! salah? salah? hihi

    • firahaziz
      20 Jan 2012

      hwaa,, aku juga pengen nyekek Gendisnya hihi kurang ajar banget diaa.. ;p

Leave a Comment