“Terlalu asin! Masak tuh seni. Harus pake feeling. Ini resep ga jelas malah diikutin.”

Aku terdiam mendengar ibu mertuaku merepet. Hari ini aku masak Soto Koya untuk makan malam. Susah payah aku sempatkan belanja ke supermarket untuk belanja bahan-bahan yang diperlukan. Berkutat seharian di dapur sambil sesekali aku melihat resep dari aplikasi memasak di tabletku.

Semuanya aku lakukan sesuai dengan tahapan yang diberikan. Tidak ada satupun yang terlewat atau tertukar. Aku pastikan takarannya pas. Satu sendok makan kuah soto koya aku coba. Enak menurutku. Dengan bangga aku sajikan di meja makan. Tapi ternyata efeknya menyakitkan.

“Udah besok mama aja yang masak. Biar kamu tau rasanya soto koya yang enak tuh kayak apa.” Satu pukulan tak kasat mata mendarat mulus di ulu hatiku. Mual.

Suamiku hanya diam. Tak berani berkutik melihat ibunya sendiri. Sebelum tidur dia hanya bisa membelai bahuku, tak tega melihatku kesal dan tak bisa berbuat apa-apa. “Sabar,ya.” Sebuah kecupan mendarat di ubun-ubunku.

Keesokan harinya, sepulang kerja aku mendapati sepanci soto koya terhidang manis di meja makan. Uap hangat mengepul, aromanya menggelitik, memaksa perutku berontak minta diisi.

“Nah pulang juga akhirnya. Ayo, Nang, istrimu udah pulang.”

Kami berkumpul di meja makan. Makan dengan lahap. “Enaak!” Pujiku. Dibalas dengan senyum bangga ibu mertuaku. Resep orang tua memang tidak perlu diragukan, pikirku.

Setelah makan, tugasku untuk membersihkan piring-piring kotor. Saat aku membuang sampah ada satu hal yang menarik perhatianku.

“Ma, ini keresek bekas apa?” Tanyaku menunjuk sebuah keresek kuning dengan tulisan huruf biru berukuran besar, ‘WARUNG SOTO BU LEK NING’.

Ibu mertuaku tergagap. Aku tersenyum menang–dalam hati.

Share:
Written by firah39
Beri aku hujan, maka akan aku ceritakan. Beri aku bulan, maka akan aku nyanyikan. Beri aku dirimu, maka akan aku berikan jiwaku.