Sejengkal Jarak

Hari ini masih sama. Senin yang sama seperti Senin lainnya. Pagi hari aku sudah mendatangi rumahmu dan menempati tempat favoritku, tempat tidurmu.

“Kamu tuh kalau datang ke sini selalu numpang tidur. Memang kamarku ini rumah singgah apa?” Protesmu suatu waktu. Tapi aku hanya menjulurkan lidah.

Tempat tidurmu tempat paling nyaman bagiku. Aku masih bisa menghidu feromonmu yang membuatku tenang. Aku menarik nafas panjang. Berupaya mengumpulkan sebanyak mungkin udara di paru-paruku agar bisa menikmati canduku. Sayangnya hari ini bantalmu sedikit bau lembab. Entah karena hari yang selalu hujan beberapa hari ini, atau karena air matamu.

Aku tahu kamu menangis beberapa malam lalu. Karena aku juga masih menangis setiap malam. Karena itu hari ini aku memaksakan diriku menemuimu meski seharusnya aku tidak diizinkan. Punggungmu ada di hadapanku. Punggung yang biasa aku peluk dari belakang dan ku kecup ubun-ubun kepalamu . Aku menjulurkan lengan untuk memelukmu namun terhenti. Keadaanya sudah berbeda.

Keadaan ini membuatku frustasi. Bagaimana bisa aku berjarak sedemikian dekat namun aku tak bisa memelukmu. Seakan ada tembok beton tebal yang menjaga kita untuk berpelukan. Selalu ada sejengkal jarak antara kita

Masih ada hakku untuk memelukmu, bukan? Karena masih ada aku di hatimu. Aku yakin itu, karena kau bahkan belum menyingkirkan foto kita berdua di samping laptopmu. Walaupun sedari tadi kau menolak untuk menatap mataku.

Dengan menahan rasa sakit dan air mata yang menggantung di ujung mataku, aku pamit. Tempat tujuanku kali ini bukan lagi tempatmu.

Aku menatap secarik kertas berisi alamat dan nomer telepon. Aku belum tahu siapa pemilik alamat ini. Aku hanya pernah bertemu dua kali, namun dia bilang bisa membantuku. Aku yakin bisa, karena dia mampu menatap mataku secara langsung, tidak sepertimu.

Aku ketuk pintunya perlahan, dia muncul dengan raut kebingungan. “Kau menemukan pesanku?”. Aku mengangguk.

“Boleh aku masuk?” Kali ini dia yang mengangguk dan aku melayang masuk ke ruangannya. Ya melayang. Aku kehilangan ragaku setelah aku mengakhiri nyawaku minggu lalu.

No Comments Yet.

Leave a Comment