Run!

Lidahku kelu, bagai seorang pandir yang menerangkan cara kerja bohlam kepada seorang Edison. Bedanya Edison-ku berambut coklat dan bersetelan Armani. Aku berharap tidak ada kamera yang terarah kepadaku, terutama ketika mulutku megap-megap seperti ikan.

Di hadapan mata hazel-nya aku selalu tidak berdaya. Ada kekuatan magis yang dimiliki sepasang mata itu hingga tidak pernah dalam sepuluh tahun kebersamaan kami, aku mampu menyembunyikan dusta. Sorotnya mampu menelanjangiku tanpa mampu aku lawan.

“Pergilah.” Ulangnya lagi. Mungkin dia pikir aku tidak mendengar apa yang dikatakannya barusan. Satu kata yang membuatku gelagapan. Padahal aku tidak pernah kehilangan kata-kata di hadapan siapapun.

Aku menatap sekelilingku, barisan kursi yang terisi penuh dengan tamu-tamu undangan, hiasan bunga hidup yang mempercantik gereja, bahkan lorong dengan karpet merah yang aku lalui belum lama berselang. Semua gambaran sempurna dari mimpi-mimpi pernikahanku sejak kecil. Aku ingat ketika aku berumur lima tahun, aku meminjam gaun malam berekor milik ibuku diam-diam. Membawanya ke pekarangan rumah dan memaksa tetanggaku untuk berpura-pura menjadi mempelai lelaki.

Aku akan berjalan menuju pohon Maple di mana temanku yang lain sudah menunggu untuk berpura-pura menjadi pendeta yang akan menikahkan kami berdua. Saat itu, pernikahan seperti inilah yang aku inginkan. Khidmat, indah dan ada lelaki tampan yang akan aku cium setelah khutbah panjang. Namun terakhir kali aku periksa, tidak ada adegan sang mempelai pria menyuruhku pergi meninggalkan altar bahkan sebelum aku menjawab “Aku bersedia.”

Aku memandang sekeliling dengan bingung. Wajah-wajah di barisan tempat duduk pun ikut heran, sebagian besar penasaran apa yang terjadi karena sang pengantin pria tiba-tiba meminta waktu pada pendeta setelah lagu “Here comes the bride” selesai berkumandang.

“Tapi…aku.. Kau memutuskanku di depan altar pernikahan kita?” suaraku terdengar lebih seperti pekikan.
Wajah tampan di hadapanku mengangguk sekali dan tersenyum. Senyuman paling manis yang pernah kulihat tersungging dari wajahnya. Aku meraih kedua tangannya, meremasnya dengan erat. “Terimakasih.”

“Mobilku terparkir di depan. Aku gugup sekali tadi pagi hingga lupa mencabut kunci dari kontaknya.” Sebuah kedipan kecil mengakhiri kalimatnya. Aku hanya bisa memeluknya seperti yang biasa aku lakukan jika dia menyelamatkanku dari omelan Nana jika aku bolos sekolah Minggu. Sebuah pelukan hangat dan penuh rasa terima kasih karena telah begitu mengerti diriku.
Aku menuruni altar dan berlari secepat yang aku mampu dengan baju pengantin Vera Wang dan sepatu Louboutin putih yang harganya setara dengan anggaran belanja negara kecil untuk pengadaan air minum rakyatnya.

Aku tertawa seperti orang gila selagi menuju pintu gereja. Suara tawa pertama dari mulutku sepanjang hari ini. Riuh gumaman tamu undangan saat ini sudah berubah menjadi pekikan histeris, terutama dari ibuku, dan juga teriakan agar aku kembali. Namun aku terus berlari dan sebelum aku mencapai pintu aku sekilas melirik Jamie yang mengacungkan dua jempolnya padaku. Aku kembali terbahak.

Seperti yang dikatakan Jamie, mobilnya terparkir tak jauh dari gerbang gereja. Ajaibnya kunci mobil menggantung di lubangnya dan mobil itu tidak tertutupi oleh mobil para undangan. Ini pasti ulah Jamie. Sebuah Post-it tertempel di tengah kemudi. Huruf-huruf ramping tertulis di sana ‘Pergilah mengarungi sungai Thames. Greg menunggumu di sana.’

Jamie dan Greg telah merencanakan ini semua, pikirku tidak percaya. Itulah sebabnya Jamie mengganti Best Man-nya di saat-saat akhir. Dia sudah tahu akhirnya akan seperti ini. Aku memutar kunci kontak dan memaki sekali. Mobil ini bertransmisi manual, dan aku buruk dalam mengatur pedal kopling. Bahkan keajaiban pun kadang tidak berjalan sempurna.

Aku menginjak pedal kopling dan memasukan gigi satu. Agak melompat pada saat aku melepas pedal kopling, namun selanjutnya aku rasa semua berjalan dengan mulus – jika kau tidak menghitung naik ke trotoar dan hampir menabrak tong sampah adalah perjalanan mulus. Setidaknya tidak ada korban jiwa ataupun luka-luka saat aku pergi membawa mobil Jamie.

Sepuluh tahun yang lalu, saat lilin-lilin di kue tart-ku baru berjumlah sepuluh, hadiah terbaikku adalah seorang teman bernama Jamie. Aku ingat dia dan keluarganya pindah ke rumah sebelah. Rumahnya sudah setahun kosong, hanya dihuni seorang kepala pelayan dan beberapa pengurus rumah dan kebun. Rumah berhalaman seluas lapangan sepak bola itu akhirnya menemukan pemilik barunya. Setelah Sir Larry wafat, rumah itu menjadi milik anak satu-satunya.

Suara musik orchestra memenuhi rumah, wanita-wanita bergaun indah dan pria-pria bertuksedo menari berputar-putar. Bukan ini pesta yang aku inginkan, apalagi aku masih berusia 10 tahun. Yang aku inginkan hanya pesta di halaman belakang dengan perang kue dan juga badut-badut yang bisa kami jahili. Tapi ayah dan ibuku selalu punya alasan untuk mengadakan pesta di rumah. Ulang tahunku, ulang tahun pernikahan, bahkan kemenangan kesebelasan sepak bola milik ayahku akan menjadi alasan diadakannya pesta dansa di rumah kami.

Aku termenung sendiri di balkon lantai dua, memandangi wanita bersasak tinggi dan pria berkepala botak yang sedang berdansa terlalu dekat. Aku jijik melihat apa yang dilakukan orang dewasa, menggoda dan menggesekan kemaluannya dengan kedok sebuah dansa.

“Kau tidak terlihat seperti orang yang sedang berulang tahun.”

Aku menoleh dan Jamie berdiri di situ. Rambutnya disisir rapi ke belakang dan dia tampak nyaman dengan tuksedonya. Tubuhnya lumayan jangkung untuk seorang anak berusia dua belas. Aku mengingat di mana aku pernah bertemu dengannya. Tapi memoriku kosong. Aku tidak mengenal anak lelaki ini.

“Siapa kau?”

“Maaf aku lupa mamperkenalkan diri. Namaku James Wellington. Kau bisa memanggilku Jamie.” Lalu dia membungkuk dan memberi penghormatan seolah berhadapan dengan seorang ratu. Anak lelaki congak, pikirku.

“Bagaimana kau tahu aku yang berulang tahun? Bisa saja kan aku hanya undangan.” Aku melanjutkan memperhatikan orang-orang di bawah dan menentukan sasaran untuk menjatuhkan kue eclair yang aku pegang. Jika aku beruntung aku bisa mengenai sanggul seorang Countess dan dia tidak akan menyadari jika ada aksesori tambahan di kepalanya.

“Mudah saja. Kau satu-satunya anak berumur sepuluh tahun yang terlihat di pesta ulang tahun ini dan terlihat paling tidak bahagia.”

“Analisa yang bagus, Sherlock.” Jawabku tanpa menoleh padanya.

“Jadi kau mau melihat hadiah yang aku bawakan untukmu, tidak? Tapi kita harus ke halaman belakang karena aku tidak diperbolehkan membawa hadiahku ke dalam.”

Aku menaikan sebelah alisku. Hadiah macam apa yang tidak boleh dimasukan ke dalam rumah? Jamie meraih tanganku tak sabaran dan memaksaku mensejajari langkahnya yang lebar hingga sampai halaman belakang.

Aku memekik kegirangan melihat hadiah uang tahunku. Hadiah ulang tahun terbaikku selama ini. Pita merah besar melingkari lehernya dan dia menyalak sekali tanda senang ketika aku membelai kepalanya.

“Anak anjing. Bagaimana kau tahu aku ingin anak anjing untuk ulang tahunku?” Tapi aku tidak mendegnar jawaban Jamie karena terlalu sibuk berguling-guling mengotori gaunku bersama anak anjing baruku. Sejak saat itu, Jamie menjadi sahabatku.

Aku membelokan mobil ke arah sungai Thames. Mesinku mati karena aku lupa mengoper gigi rendah. Dari semua mobil mewah bertransmisi otomatis, kenapa kau malah memberikanku mobil ini, makiku. Seorang pria tidak sabaran menurunkan kacanya dan berteriak kasar agar aku cepat jalan. Aku hanya membuka kaca dan mengacungkan jari tengahku. Persetan!

Empat tahun lalu aku sedang menangis di rumah pohon yang aku dirikan bersama Jamie. Kami sudah berusia dua puluh dan terlalu besar untuk rumah pohon ini. Tapi aku selalu bersembunyi di sini jika aku butuh ruang pribadi.

Sebuah ketukan berirama terdengar dari pintu tingkap. Aku tahu itu Jamie, karena hanya dia yang mengetuk seperti itu. Tanpa aku persilahkan masuk, dia memanjat naik dengan susah payah. Tubuh kekarnya membuatnya kesulitan memasuki pintu rumah pohon untuk anak berusia 13 tahun.

“Aku seharusnya membuat pintu itu lebih lebar.” Katanya sedikit terengah.

“Jamie, aku mencintainya.” Aku langsung membuka kartuku. Aku tahu hanya Jamie yang bisa mengerti diriku.

“Ibumu tahu?”

“Tentu saja tidak. Dia bisa mati berdiri jika aku katakan pada siapa aku jatuh cinta.”

Jamie ikut terdiam. Biasanya dia selalu memiliki jawaban atas segala masalah yang aku hadapi. Menenangkanku dengan segala keyakinan yang dia ucapkan. Di sisi Jamie, aku yakin aku pasti baik-baik saja. Tapi kali ini Jamie pun tidak bisa meyakinkan dirinya sendiri bahwa segalanya akan baik-baik saja.

Aku jatuh cinta pertama kali ketika aku diajak Jamie bertemu dengan temannya. Namanya Greg, kami berkunjung ke rumahnya untuk berlatih lagu baru. Jamie  dan Greg memiliki sebuah band indie yang beranggotakan empat orang, Jamie pada vokal, Greg pada gitar, Trevor pada drum dan satu-satunya personil perempuan Natalie pada bass.

Saat pertama kali melihatnya aku tahu aku menyukainya, dan dia juga begitu. Aku jatuh cinta pada petikan senarnya. Aku jatuh cinta pada gayanya, aku jatuh cinta pada dunianya yang sangat berbeda denganku.

Jamie dan aku sama-sama dibesarkan dalam lingkungan yang sama. Keluarga aristokrat yang memandang gelar adalah segalanya. Aku dan Jamie adalah sepasang pemberontak yang diam-diam mengganti pakaian berharga ratusan pounds dengan jaket kulit belel dan celana jeans sobek.

Aku melaju dengan tergesa-gesa. Tak hirau dengan suara klakson dan decit rem mobil lain. Hanya bisa berharap tidak ada yang celaka dengan cara mengemudiku. Tujuanku St. James Park sudah dekat. Aku yakin dia sudah menungguku di sana. Taman ini adalah taman yang paling dekat dengan Hard Rock Cafe, tempat band Jamie pertama kali menandatangani kontrak label. Di taman ini aku pertama kali mengutarakan cintaku dan menciumnya di depan seluruh anggota band.

Setelah memarkirkan mobil secara asal-asalan, aku menenteng ekor gaunku dan melepaskan sepatu hak tinggi yang menyulitkanku berjalan. Di tepian sungai, sedang memunggungiku dan bersandar pada pagar, berdirilah Greg. Jaket denim dan celana pensil yang sengaja diturunkan hingga pinggul.

“Greg!” panggilku. Tidak peduli tatapan heran orang-orang melihat seorang wanita berpakaian pengantin dengan sanggul acak-acakan dan bertelanjang kaki berlari melitasi taman St. James Park.

Greg berbalik dan tersenyum lega. Seolah sejak tadi dia meragukan aku akan datang. “Hi, Bride! Kau cantik dengan pakaian itu.” Gelaknya.

“Di mana dia?” tanyaku tak sabar.
Greg hanya memajukan dagunya untuk menunjuk ke belakangku. Berdirilah Natalie dengan tubuh jangkungnya. Rambut brunette yang dipotong pendek a la Dolores O’Riordan menambah jelas freckles di wajahnya. Aku menyusup dalam pelukannya dan membisikan kalimat “I love you” di telinganya. Bibir kami berpagut, menuntaskan rindu yang sudah bosan bersembunyi.

“Aku tahu kalian masih ingin di sini. Tapi sebaiknya kalian pergi secepatnya sebelum seluruh polisi Inggris mencarimu, Em.” Greg menyerahkan sebuah tas kecil berisi uang tunai, pasport dan tiket atas namaku.

“Terima kasih, Greg. Katakan juga pada Jamie aku berhutang budi pada kalian semua.” Natalie menyalami Greg sementara satu lengannya melingkari pinggangku.

Greg memeluk kami berdua. “Selamat berbulan madu!” dan kami tertawa keras.

“Ayo!” aku menarik tangan Natalie seperti saat Jamie menarikku untuk melihat hadiah ulang tahunku.
Senyumku mengembang, kebebasan di depanku terbentang luas dan aku bisa menjadi diriku sendiri. Bertahun-tahun aku menyembunyikan ketertarikanku pada sesama jenis. Namun sekarang aku tidak perlu berpura-pura lagi. Aku menoleh pada Natalie yang matanya sama berbinar dengan mataku. Kami tahu mulai hari ini, kami tidak perlu bersembunyi.

“Kau yang menyetir,” kataku sambil melemparkan kunci mobil, “aku tidak pandai dengan benda berpersneling.”

No Comments Yet.

Leave a Comment