Ramen – Itadakimasu

Itadakimasu!” Kataku saat menghidangkan makanan.

Pelangganku tersenyum senang melihat semangkuk ramen dengan asap melingkar mengepul di atasnya. Kuahnya yang jernih dan kental, penataan tamago (telur rebus setengah matang yang telah diberi bumbu), juga topping daging sapi di atasnya tidak pernah gagal untuk meningkatkan selera makan pelanggan. Tapi bukan itu yang membuat kedai ramenku selalu ramai. Kelezatan kuahnya yang gagal ditiru oleh pemilik kedai lain yang menjadi pemikat lidat para pelanggan.

Selama beberapa tahun menuntut ilmu di sekolah kulinari, aku memutuskan untuk terus fokus di bidang makanan jepang. Tidak mudah untuk sukses di bidang ini, apalagi cita rasa makanan jepang yang kadang tidak sesuai dengan lidah orang indonesia. Tetapi perlahan akhirnya kesuksesan mulai menyapaku.

Banyak yang bertanya padaku tentang resep rahasiaku. Karena tidak ada yg dapat mendekati rasanya. Jika ada yang bertanya aku hanya tersenyum dan menjawab singkat, “Riset. Riset. Riset!”

Memang benar, untuk mendapatkan rasa yg sempurna aku melakukan riset dalam waktu yang sangat panjang. Setiap takaran, bahan-bahan kelas premium, bahkan aku hampir gila ketika tidak menemukan rasa yg pas. Belakangan baru aku mendapatkan bahan khusus yang membuat rasa ramenku utuh.

Mengingat masa-masa riset panjangku membuat aku teringat sesuatu, bahan rahasiaku sudah menipis. Dengan banyaknya mangkuk ramen yang terjual, aku harus menyedialan bahan-bahan dalam jumlah besar, namun sayangnya bahan itu sulit didapatkan. Aku harus mendapatkan daging yang masih segar dan dipotong dengan cara khusus. Usia pun menjadi faktor penentu, jika terlalu muda rasa ramen menjadi kurang gurih, seperti sayur kurang bumbu. Sedangkan jika terlalu tua rasa kuah ramen akan menjadi sedikit pahit.

Aku berfikir keras guna mendapatkan daging terbaik. Sangat sulit mendapatkan daging yang aku inginkan. Sambil berfikir, aku menyeret langkahku menuju tempat pembuangan sampah. Hujan sedang turun seperti biasanya. Di musim hujan seperti ini biasanya pengunjung kedaiku bertambah. Mereka bilang cuaca dingin cocoknya makan makanan gurih dan hangat, seperti ramen.

Saat aku membuka pintu belakang kedaiku, ada sebuah sosok terlonjak. Hampir saja aku kira dia adalah perampok sampai aku lihat sepasang mata bulat dan jernih.

“Hey, apa yang kau lakukan di situ?!”

Seorang anak berusia sekitar sebelas tahun. Basah kuyup karena kehujanan dan gemetar karena kedinginan. Mulutnya nampak penuh, rupanya sejak tadi dia mengais-ngais tempat sampahku.

Anak itu gemetar ketakutan. “Kemarilah! Aku takkan menghukummu.”. Senyumku terkembang.

Anak itu menimbang-nimbang, namun akhirnya mendekatiku. “Siapa namamu?” Tanyaku sambil mengajaknya masuk ke dalam kedai.

Aku senang. Nampaknya ramenku tidak akan kehilangan bahan baku selama beberapa hari ke depan.

Note: tulisan ini dibuat untuk sesi writing class pada gath @nbcbandung tgl 19.02.2012

(3) Comments

  • RuriOnline
    20 Feb 2012

    ternyata!!

  • fira
    25 Feb 2012

    Baru keinget film musikal yg serupa, Sweeney Todd-nya Johnny Depp. Bedanya itu pie daging 😀

Leave a Comment