Rae Sang Asrai

Jika kamu menyukai hujan, tahukah kamu ada cerita dibaliknya. Dahulu kala ketika para mahluk magis dan manusia masih saling berhubungan erat, terdapat peri air yang disebut Asrai.
Sampai saat ini pun para Asrai masih hidup di dalam hutan tergelap. Namun karena manusia memilih untuk tidak lagi mempercayai keberadaan makhluk gaib, mereka memutuskan utuk bersembunyi dari penglihatan manusia manapun. Padahal jika kau jeli dan beruntung tentunya, kau dapat melihat mereka di tengah hutan gelap tempat yang tidak terjamah manusia. Tidak tersentuh oleh pembalakan liar yang dilakukan oleh manusia.
Baiklah sebelum kau jenuh dengan ceritaku mengenai betapa jahatnya manusia kepada lingkungannya sehingga para mahkluk gaib memilih untuk menyingkir dan memisahkan diri dari dunia manusia, baiknya aku ceritakan mengenai Asrai dan cerita dibalik hujan.
Asrai atau peri air sebenarnya adalah peri yang sulit ditemukan, bahkan ketika dunia mereka begitu dekat dengan manusia. Asrai memiliki kulit yang pucat dengan rambut pirang yang biasanya tergerai hingga punggung. Ketakutan terbesar mereka adalah matahari dan tertangkap manusia. Bahkan sejak zaman dahulu kala, manusia sangat mengagumi kecantikan para Asrai. Kulitnya yang berkilauan ketika disinari cahaya bulan membuatnya nampak seperti malaikat.
Kebiasaan para Asrai adalah berkumpul dan berenang di sebuah mata air pada saat bulan purnama. Di sana mereka menikmati keindahan pendar cahaya bulan yang dipantulkan kulit mereka. Saling bercanda dan bercengkrama. Diantara para Asrai tersebut, terdapat seorang Asrai yang bernama Rae.
Tidak seperti beberapa temannya yang menikmati suasana malam purnama, Rae termenung di tepian danau. Pikirannya melayang entah kemana, tatapannya nanar. Di dalam hatinya, dia merasa ada yang selama ini hilang dari hidupnya. Namun entah apa. Meskipun selama ini dia dikelilingi oleh teman-temannya yang menghibur di kala sedih dan tertawa bersama berbagi kebahagiaan, tetapi masih ada yang kosong di dalam hatinya.
Ketika sedang memikirkannya, Rae mendengar ada sesuatu yang datang dari dalam hutan. Seketika dia menengok dan mencoba melihat lebih jelas. Dengan segala keberanian dan rasa penasarannya dia bertanya kea rah sumber suara, “Siapa di situ?”.
Namun tidak ada satupun yang menjawab. Dipenuhi rasa penasaran, dia bangkit dan berjalan memasuki hutan yang gelap. Dadanya berdebar kencang, dipenuhi rasa tegang yang luar biasa. Dia melihat ke sekeliling dan kembali bertanya, “Siapa di situ?”.
Karena tidak ada yang menjawab seruannya, Rae mengira pastilah kelinci atau binatang malam yang sedang berburu mencari makan. Maka dia membalikan badan untuk kembali. Namun tiba-tiba, sepasang tangan kasar membekap mulutnya dan sepasang tangan lagi mengikatkan tali ke tubuhnya.
Dengan sekuat tenaga Rae menendang, memberontak dan berusaha untuk berteriak. Namun semua sia-sia. Kedua orang itu terlalu kuat untuk dia lawan.
Di tepian hutan, tubuh Rae dihempaskan kedalam kandang yang ditarik menggunakan dua ekor kuda. Kedua orang yang menangkapnya terkekeh senang. “Akhirnya kita mendapatkan tangkapan bagus, eh?”
Satu orang lainnya yang lebih pendek dan bersuara lebih rendah menjawab, “Betul. Coba bayangkan berapa yang bias kita hasilkan dari pertunjukan! Kita pasti kaya raya! Hehehehe.”
Di belakang kereta kuda, Rae menangis ketakutan. Seharusnya tadi dia tidak masuk ke dalam hutan sendirian.
Setelah beberapa lama terguncang-guncang, kereta kuda itu memasuki satu perkemahan. Terlihat api unggun yang dibiarkan menyala, namun tidak ada siapapun yang mengelilinginya. Beberapa caravan tersandar di sekeliling api unggun itu. Dilihat dari bentuk caravan, nampaknya mereka adalah kaum gipsy yang berkelana dari satu tempat ke tempat lain untuk melakukan berbagai  pertunjukan.
Melihat sekelilingnya, rasa takut Rae bertambah besar. Dia mengerti bagaimana nasibnya nanti. Dia pasti akan menjadi salah satu pertunjukan mereka.
Keesokan paginya, Rae terbangun karena mendengar ribut-ribut di dekatnya, sepertinya dia terlalu letih menangis sehingga tudak sadar tertidur. Kandang tempatnya meringkuk semalaman tertutup oleh kain gelap. Menghalangi sinar matahari yang hangat, namun tetap saja Rae merasa pengap dan terbakar di dalam kandang itu. Semua peri air tidak tahan akan cahaya matahari.
“Pergi! Pergi! Kalian hanya akan membuat bintang pertunjukanku ketakutan!” hardik sebuah suara kasar dari luar kandang. Lalu Rae dapat merasakan dirinya dipindahkan ke dalam suatu ruangan. Pastinya terlindung dari cahaya matahari karena rasa panas yang membakar tidak lagi dia rasakan, hanya pengap yang masih terasa.
“Anakku. Bersiaplah. Karena ayahmu akan menunjukan sesuatu yang belum pernah kau lihat sebelumnya. Bahkan mungkin hanya beberapa orang saja di dunia yang pernah melihatnya.”
Dan tersibaklah kain penutup kandang dimana Rae di sekap. Dengan dipenuhi rasa takut Rae menangis. Mencoba meronta untuk membebaskan ikatannya, namun itu semua percuma.
Di sudut ruangan salah satu laki-laki yang menangkap Rae tadi malam berdiri dengan wajah tersenyum puas, disebelahnya nampak seorang pemuda dengan wajah takjub memandang ke arah Rae.
Sepanjang hari Rae terus menerus menangis. Ketakutan dan lelah karena tidak dapat bergerak. Mulutnya ditutupi kain hingga tak mungkin berteriak. Saat itu malam sangat larut dan seharian Rae belum mendapatkan makanan ataupun seteguk air. Tubuhnya lemah.
“Maafkan ayahku.” Kata suara lembut kepada Rae.
Rae menoleh dan melihat pemuda itu berdiri di samping kandangnya sambil memegang segelas air dan sepotong roti. Rae yang kelaparan dan haus menatap air dan roti yang dibawa pemuda itu. “Aku akan memberimu air, jika kau berjanji tidak akan teriak.”
Rae hany abisa mengangguk lemas.
“Aku tidak tahu apa yang biasa kau makan, tapi aku hanya punya ini.” Ujarnya sambil menyodorkan sepotong roti.
“Tolonglah aku. Tempatku bukan disini.” Rae memelas.
“Aku tahu. Tapi tidak ada yang bisa ku perbuat.”
“Kasihanilah aku. Bebaskan aku. Demi kebaikan kalian para manusia juga, jika kaumku tahu kalian memperlakukanku seperti ini, semua Asrai akan berhenti mengirimkan hujan dari langit. Dan kalian akan kekurangn air selamanya. Tidakkah kalian berhutang budi pada kami yang membantu kalian mendapatkan air dari langit selama ini?”
Pemuda itu yang pada dasarnya berhati lembut, tidak seperti ayahya, berfikir keras untuk mencari cara menyelamatkan Rae. Belum pernah dia melihat makhluk secantik ini, dan juga membuatnya iba setengah mati.
“Baiklah. Akan aku bebaskan kamu malam ini juga. Tunggulah aku di tepi hutan. Aku akan mengantarmu kembali ke dalam hutan setelah aku membebaskanmu.”
Malam itu juga pemuda itu diam-diam melepaskan kunci tempat Rae dikurung. Menutupinya dengan kain dan membopongnya diam-diam ke tepi hutan. Tidak ada yang curiga saat itu. Karena memang para gipsy sedang terlelap di caravan masing- masing.
Di tepi hutan pemuda itu melepaskan penutup tubuh Rae dan berkata, “Aku tidak pernah melihat sesuatu seindah dirimu. Tidak akan sampai hatiku melihatmu menjadi tontonan orang-orang.”
“Terima kasih karena kau telah berhati lembut dan membebaskanmu. Seandainya aku bisa melakukan sesuatu untuk berterimakasih padamu.”
Pemuda itu ragu untuk mengucapkan permohonannya. Tapi tidak ada kesempatan lagi untuk mengutarakan hal itu. “Ada satu pintaku kepadamu. Jika kau memang ingin berterima kasih kepadaku, kabulkanlah permitaanku.”
“Katakanlah!”
“Aku hanya ingin menemuimu lagi setelah ini. Sejak pertama ku melihatmu aku tahu tidak akan pernah melihat makhluk seindah dirimu. Maukah kau menemuiku lagi?”
Rae berifikir keras. Tidak mungkin baginya menemui seorang manusia, karena pada dasarnya dia tidak boleh dilihat seorang manusia pun. Lagi pula sedikit saja cahaya matahari dapat membunuhnya. Melihat ketulusan hati pemuda itu Rae tidak kuasa menolaknya
“Aku hanya dapat menemuimu saat malam hari. Saat matahari tidak dapat menyentuh kulitku.”
Pemuda itu mengangguk setuju. “Temui aku besok tengah malam di sini. Aku pasti dating menemuimu.”
Rae yang kembali kepada teman-temannya tidak mampu melupakan kebaikan pemuda itu. Sepanjang hari dia menunggu perjumpaannya di tepi hutan seperti yang telah dijanjikan.
Keesokan malamnya, Rae menunggu di tepi hutan. Di tempat yang dijanjikan. Dia teringat janji pemuda itu. Apapun yang terjadi dia pasti datang menemuinya.
Berjam-jam Rae menunggu di tepi hutan. Sambil memegang sebatang bunga lily air langka sebagai tanda terima kasihnya kepada pemuda itu. Namun pemuda itu tak kunjung dating.
Rae tidak mengetahui bahwa di pemukiman para gipsy, pemuda itu tertangkap membebaskan Rae dan dihukum seberat-beratnya oleh laki-laki yang dipanggilnya ayah. Rasa marah yang membabi buta membuatnya menghukum pemuda itu hingga tidak berdaya.
Rae yang menunggu pemuda itu hingga matahati akan terbit bertahan di tepi hutan. Dia percaya pemuda sebaik itu tidak akan mengingkari janjinya. Rae berdoa pada dewa. Memohon agar fajar ditunda kedatangannya. Dia berfikir pasti pemuda itu hanya datang terlambat karena sulit menyelinap dari perkemahan.
Pemuda malang yang terkapar tak berdaya karena didera beratus kali hanya mampu menatap fajar yang dating perlahan.
Saat cahaya matahari pertama menyinari bumi, dan mengenai kulit Rae yang terlambat untuk berlindung, saat itu Rae hanya pasrah kepada dewa. Memohon sepenuh hati untuk diberikan kesempatan mengucapkan perpisahan pada pemuda itu.
Rae yang menahan sakit karena terbakar matahari dan perlahan menghilang menguap menjadi awan terus memohon pada dewa. Permohonannya yang terus menerus akhirnya didengar dewa. Sehingga ketika Rae yang tubuhnya terbuat dari air berubah menjadi awan karena menguap terkena matahari. Seketika dewa mengabulkan permohonan Rae yang meminta untuk menyampaikan rasa terima kasihnya pada pemuda itu. Dewa mengubah Rae yang menggatung di langit sebagai awan berubah menjadi titik-titik hujan yang menyapa bumi.
Saat itu terdengar suara senandung Rae yang mengucapkan terima kasih pada pemuda yang membantunya bebas dari tangkapan manusia. Dan jika kau jeli mendengarkan, sampai saat ini akan selalu terdengar suara senandung pada saat hujan.

*ini cerita dongeng pendek pertama yang saya tulis. Bahasanya masih ‘polos’, tapi selalu menyenangkan untuk saya membaca tulisan-tulisan lama. Rasanya seperti merasakan dan mengingat lagi perasaan dan atmosfir ketika saya menulis saat itu.*

No Comments Yet.

Leave a Comment