Pindah

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi #FF2in1 yang diselenggarakan oleh @nulisbuku

Angin mulai terasa dingin. Menyelusup ke sela-sela pori. “Ini..minum ini.” Uap bandrek panas menggelitik hidungnya.

“Kamu mana?”

“Aku gampang.”

Selalu begitu. Dia mengorbankan apapun demi aku. Sering kali itu membuatku tak enak. Aku menyodorkan gelas yang masih penuh.

“Kamu dulu. Masih panas.”

Rokok tersulut. Dia menghisap dalam dan menghembuskan nafas panjang. “Kamu yakin akan pindah?”

Aku menatap lurus ke depan. Tidak mampu melihat wajahnya. “Tentu saja. Tidak masalah kan?”

Dia mengangkat bahu dan menghisap rokoknya lagi. “Yah jika itu pilihanmu.”

“Kok kamu serasa berat jika aku pindah?” Tanyaku menahan tawa melihat ekspresinya. “kita masih tetap sering bertemu kok.”

Dia lalu menatap wajahku dalam-dalam. “Tentu aja aku merasa berat. Kamu pindah ke sebelah rumah aku, Yang.

Aku gak bisa bayangkan tiap pagi kamu akan menggedor pintu kamarku tiap pagi, dan mengganggu tidur panjangku. Terus nanti kamu akan menjajah tempat tidurku, lalu bersekutu dengan ibuku untuk mengawasiku. Tidak boleh bolos kuliah, tidak boleh banyak minum kopi. Huh bawel!”

Aku sekarang tidak dapat menahan tawaku. Ya aku tahu reaksi dia akan seperti ini. Apa yang dia bilang memang benar.

“Tapi kamu seneng kaan?” Aku menggodanya sedikit.

Tapi dia hanya mengalungkan tangannya ke leherku, dan mengecup ubun-ubunku. “Tentu saja. Yang pasti aku tinggal mengetuk jendelamu kalau rindu.”

No Comments Yet.

Leave a Comment