Noura

Aku ingat ketika aku membuatmu menangis pertama kali. Kala itu kamu menangis tanpa suara karena aku tanpa sengaja memecahkan patung bebekmu yang bentuknya tidak menyerupai bebek. Kamu berubah menjadi makhluk lucu dengan pipi merah, hidung, mata dan bibir bengkak. Pokoknya lucu sekali.

Kamu membentakku, tapi tidak ada sumpah serapah atau kata-kata kasar yang keluar dari mulut manismu. hanya satu kata. “KEI!”

Iya saat itu kamu meneriakan namaku pertama kali. Yah sebelumnya kamu pernah mengucapkan namaku, tapi tidak seperti ini. Bukan dengan tujuan membantu ibu guru untuk mengabsen atau membagikan buku tulis yan telah selesai dinilai. Tapi benear-benar memanggilku dengan sungguh-sungguh.

Kamu gadis mungil yang tidak pernah gaduh. Lebih banyak terdiam di meja tepat depan meja guru. Tidak pernah aku duga kalau suaramu bisa sekeras itu. Noura, percayalah, ketika aku tidak sengaja menjatuhkan kerajinan tanah liatmu yang entah seperti apa bentuknya, meski pada saat itu kau bersikukuh jika itu adalah bebek, aku sebenarnya telah membantu dirimu.

Andai saja pada saat itu aku tidak menjatuhkan bebek tanah liatmu yang lebih mirip marmut asimetris bagiku, aku tidak akan pernah tahu bahwa kamu memiliki suara paling indah yang pernah aku dengar. Bukan..suara yang aku bilang indah bukan ketika kamu meneriakkan namaku, tapi setelah itu.

Aku ceritakan sedikit. Saat itu kamu menangis tanpa suara, memunguti tanah liat yang tercerai berai dengan air mata berderai dan isak tangis tertahan. Aku berulang kali mengucapkan maaf seperti yang ibuku pernah ajarkan, seorang lelaki sejati tidak pernah gengsi meminta maaf pada wanita. Tapi saat itu kamu tetap terdiam. Kamu mendekap puing-puing patahan hasil karya seni yang akan dikumpulkan sejam lagi, dan dengan satu tatapan mata tajam yang menorehkan rasa bersalah padaku, seketika duniaku runtuh. Aku sudah melukai hati wanita, padahal ibuku selalu berpesan, jangan pernah menyakiti hati wanita sekecil apapun perbuatanmu.

Aku tahu pada saat itu kamu pasti ingin memukulku di wajah, mematahkan tulang hidungku, dan merontokan beberapa gigi seriku hingga aku tak akan mampu tersenyum lagi karena malu. Tapi kau tetap diam, hingga saat itu.

Ujian mata pelajaran seni hanya hitungan menit sekarang. semua sedang mempersiapkan hasil karya ataupun berlatih untuk menunjukan bakat seninya masing-masing. Aku dan beberapa temanku yang sama tololnya denganku memilih kabaret. Jangan tanya kenapa kabaret, sudah aku bilang kami tolol bukan? Karena jika kami tidak tolol kami akan memikirkan untuk menampilkan hal lain yang lebih tidak mempermalukan diri sendiri. Aku, si kembar  Castor dan Pollux sumber ketotolan ini, dan lima antek-antek kami yang sama tololnya berfikir, dengan kabaret maka kami bisa berlatih bersama-sama dan membagi tugas ke banyak orang. Salah besar tentu saja, karena ketika kami berkumpul, yang kami lakukan hanya main dan saling melemparkan pekerjaan.

Ah aku kan jadi melantur, nanti saja aku ceritakan mereka, aku hanya ingin menceritakan tentang kamu, Noura. Setelah aku sukses mempermalukan diri sendiri, ditertawakan dengan sukses, dan guru kita memberi nilai 70 (aku sendiri terkejut karena diberi nilai 70, tapi aku duga itu karena kasihan), aku melihatmu menyendiri di sudut kelas. Menatap nanar kepingan tanah liat yang susah payah kamu buat. Sampai saat namamu dipanggil ke depan untuk diberi penilaian.

Kamu menghela nafas kemudian berjalan ke depan. Pandanganmu tertunduk dan aku bersiap untuk maju ke depan. Aku tahu kamu tidak punya apa-apa lagi untuk ditunjukan kepada guru setelah tanah liatmu aku jatuhkan. Semoga saja saat itu guru mau menerima alasanku dan memberikanmu keringanan. Aku bersiap untuk maju ke depan namun kamu kemudian berbalik dan menghadap ke kelas.

“Anak-anak, sekarang Noura akan menampilkan bakatnya, Jangan ribut ya!” Lalu kelas hening. Kamu membuka mulutmu dan suara yang tak kusangka muncul dari dua bibir yang tadi sama meneriakan namaku dengan marah. Sebuah alunan lagu More Than Words membuat seisi kelas terhenyak. Sebagian besar tidak menyangka karena itu keluar dari seorang Noura yang pendiam dan seluruh kelas sudah pasti terhipnotis oleh suaramu yang tepat nada.

Kamu mengakhiri lagu itu dengan sebuah nada tinggi dan panjang. Ada jeda sebentar setelah kamu menyanyi, bukan karena suaramu jelek. Tapi karena kami masih memproses apa yang terjadi saat itu. Seisi kelas dan aku bertepuk tangan keras, kecuali Castor Pollux dan temanku yang lain. Jangan hiraukan mereka, bukankah sudah kukatalan mereka tidak terlalu cerdas?

Kamu tersenyum. Manis. Dan sejak saat itu namamu dan hari itu akan tetap aku ingat. sampai sekarang.

 

Aku masih ingat ketika membuatmu menangis pertama kali. Tangisan tanpa suara hanya air mata yang berderai. seperti saat ini. Padahal setelah sepuluh tahun, baru kali ini aku menemuimu lagi namun aku merusak semuanya dengan mengatakan perasaanku dan membuatmu menangis. 

 

Bandung, 6 Januari 2017.

No Comments Yet.

Leave a Comment