Neutrino

Tidak pernah terpikirkan olehku untuk berada di sini, bersamanya. Bukan berarti aku tidak menyukainya, sebaliknya malah. Hanya saja setelah apa yang terjadi beberapa tahun ke belakang, aku masih takjub dengan kehadirannya di sisiku. Dia bisa saja dengan mudah meninggalkanku, karena beberapa kali aku terjatuh, mengulang kesalahan yang sama, bahkan sempat terpikir untuk pergi darinya.

Meninggalkannya adalah suatu pikiran terbodoh yang pernah aku punya.

“Hey, kamu sedang memikirikan apa?” tangannya seolah mengusir serangga-serangga tak terlihat di hadapanku.
Aku terhenyak, dan menyadari pasti tampangku terlihat bodoh ketika melamun tadi. Buru-buru aku menggeleng.
Dia merangkul pundakku dan membawaku berjalan, “Sini, aku rangkul. Supaya kalau kamu melamun lagi, kamu tidak hilang atau jatuh. Atau yang paling bodoh, kamu nabrak tiang.” Dia memang selalu konyol, konyol yang menyenangkan.

Jangan tanya seperti apa kami berawal. Pertemuan kami adalah sesuatu yang tidak pernah bisa diduga, dan hubungan kami tidak pernah mulus. Pertengkaran demi pertengkaran, caci maki, dan segala hal buruk yang terjadi ketika kami bertengkar. Seolah bom nuklir siap-siap meledak ketika ada pemicunya.

Hubungan kami memang butuh perjalanan panjang untuk dapat menjadi seperti ini. Berliku penuh kelokan tajam dan kadang jurang. Namun itu yang membuat kami mengenal diri masing-masing. Pertengkaran ini menelanjangi sosok kami menjadi paling dasar.

Seperti neutrino yang terjadi dari peluruhan radioaktif. Segala bentuk perdebatan, perselisihan kami, meluruhkan satu lapis keangkuhan dan keegoisan kami. Menyisakan elemen paling dasar dari kami, yaitu jiwa kami yang telanjang, jujur dan apa adanya.

Aku menengadah menatap wajahnya dan tersenyum, “Terima kasih.” kataku tulus. “Karena berfikir untuk mempertahankan dan memeperbaiki kita, dibanding mencari yang baru.”

Cimahi, 1 September 2015

No Comments Yet.

Leave a Comment