Merindukanmu Itu Seru #15HariMenulisFF

Merindukanmu itu seru. Seperti saat kita membolos dengan seragam abu-abu, lalu menyelinap di belakang sekolah tuk menghindari guru-guru.

Bebii..kenapa kamu ga bisa pulang waktu aku ultah sih? Aku kangen.

Nada bicaramu terdengar manja. Sedikit kesal, sedikit sedih dan banyak rindu yang menggebu di sana. Aku mengaduk latte-ku sambil mendengarkan suaramu dari headphone wireless.

“Lalu, hari ini kamu mau kemana?”

Gak tau. Ni aku lagi jalan-jalan aja sendirian. Rasanya pengen beli sesuatu. Yah anggap aja reward for my self. Hihi..

Ah derai tawa itu yang buat aku semakin merindu. Kau tahu, aku selalu menunggu cerita keseharianmu seperti episode serial tv yang tayang setiap hari. Mencanduku hingga tak ada lagi yang aku tunggu selain duduk nyaman di kursi panjang depan tv dan menikmati tiap scenenya dengan popcorn di pelukanku.

“Maaf ya aku gak bisa nemenin. Harusnya kamu gak jalan-jalan sendirian.”

Tenang aja. Aku ngerti ko,kamu ga bisa pulang. Selesaikan aja dulu kerjaan kamu, lalu nanti kita rayakan ultah aku sama-sama. It’s better too late than never,kan bebi?

Bagaimana kau bisa lakukan itu. Bersikap manja dan dewasa pada saat yang sama. Aku tahu kau pasti sangat kesepian dan sedih. Berada di sana saat hari isimewamu, tanpa ada orang lain yang menemanimu. Harusnya saat ini kau bersenang-senang dengan temanmu, atau merayakannya denganku.

Ada jeda sebentar, nampaknya kau sedang bicara dengan seseorang, lalu kau terdengar mengucapkan terima kasih. “Ada apa?” Tanyaku.

Ga tau nih,bi. Ada orang tiba-tiba ngasih lima tangkai bunga mawar terus ngucapin happy birthday. Kamu ga lagi di sini kan?

Kalimat tanya terakhir itu terdengar mendesak. Aku hanya tertawa. “Ga mungkin sayang, kan aku lagi di Solo.”

Yaah.. kirain aku kamu tiba-tiba ada di sini. Jadi siapa donk yang ngasih bunga ini. Ko aneh banget?

Iya itu aku. Pengganti kehadiranku. Lima tangkai bunga untuk lima tahun masa pacaran kita. Tapi aku tidak dapat menyampaikan bunga-bunga itu padamu secara langsung.

Bebii ada lagi yang ngasih bunga. Kali ini delapan tangkai. Waktu aku tanya, dia ga jawab apa-apa. Ini pasti kerjaan kamu ya?

Delapan tangkai bunga. Delapan adalah tanggal pertama kali kau menerima cintaku. Saat itu juga kau mengubah hidupku menjadi berwarna. Seperti revolusi televisi yang tadinya bisu dan hitam putih, menjadi era penuh warna. Ya, seperti itulah kamu.

“Gimana bisa itu kerjaan aku? Aku kan jauh.” Ah harusnya aku bisa memberikannya langsung, kemudian memelukmu erat sebagai ucapan ulang tahunmu.

Bebii..ini ada lagi yang ngasih lima tangkai bunga. Aaah aku yakin ini pasti kerjaan kamu!

Iya sayang itu kerjaan aku. Aku hanya tertawa. Tunggu sebentar lagi. Tanggal delapan, bulan lima, tahun 2006. Berarti akan ada satu orang asing lagi yang akan memberimu 6 tangkai bunga. Tak apa kan, aku mengganti kehadiranku dengan tangkai-tangkai bunga itu?

“Sayang, aku harus pergi. Jam istirahatku sudah habis. Nanti aku telpon lagi ya?”

Ada nada protes darimu. Menuntutku mengaku, tapi aku langsung menutup sambungan telepon dan beranjak meninggalkan cafe. By the last bunch of roses, you’ll know I’m the one who send you all of those.

Aku melirik sekilas ke jam tanganku. Jam tangan yang sama seperti milikmu. Yang kita beli pertama kali setelah menikah. Ada namamu tergrafir di belakangnya, begitu juga namaku di jam milikmu. Saat ini harusnya kau menerima satu buket berisi enam tangkai bunga mawar dan sebuah kartu bertuliskan ‘I’ll be loving you till the last rose fade. And now you have to find the last one. Bagas’.

Dua puluh lima tangkai mawar segar, satu tangkai lagi hingga genap dua puluh enam. Sesuai dengan umurmu.

Aku melangkah lebih jauh dari cafe tempatku terakhir berada. Menghampiri seorang wanita cantik yang sedang menoleh kebingungan setelah membaca sebuah kartu di tangannya.

Aku menepuk pundaknya, tersenyum manis dengan setangkai mawar plastik di genggamanku. “Happy birthday, sayang. Here’s your last rose. I’ll love you till this rose is fade.”

Kau melirik ke bunga plastik yang aku pegang. “Ini kah plastik, gimana bisa layu?” Serumu. Aku hanya mengangkat bahu dan kita berpelukan ditengah pandangan iri orang-orang.

Betul kan kataku, merindukanmu itu seru. Merangsang imajinasiku untuk berbuat sesuatu yang mampu mengejutkanmu.

(2) Comments

  • Adis
    23 Jan 2012

    owwwww so sweeeeeet… 🙂

Leave a Comment