Mantan Terindah

Temui aku di sini.” Jantungku berpacu. Menemuimu, di kotamu. Tentu saja aku mau! Tidak akan aku sia-siakan undangan itu.

“Kita bertemu bulan depan kalau begitu?” aku mengiyakan.

Kamu, yang mengisi hari-hariku dengan beribu-ribu kata-kata sederhana yang sanggup membuatku berulang kali membaca pesan darimu. Beribu-ribu kilometer yang memisahkan kita, tapi tidak mampu mengurangi rasa cintaku padamu. Bagiku, jarak seperti itu hanya mampu menundaku bertemu denganmu, bukan riduku. Rinduku berserak di setiap inchi yang buat kita tak nampak.

Satu demi satu aku susun baju-baju terbaikku. Banyak kaos yang nyaman karena kotamu berada di pesisir pantai. Pasti udaranya panas, pikirku. Aku masih saja membayangkan hari-hari yang akan aku habiskan bersamamu. Kamu berjanji akan mengajakku ke tempatmu biasa menonton pertunjukan jalanan. Semoga saja ketika aku berkunjung nanti akan ada jadwal mereka tampil.

Pantai. Kamu tahu aku suka sekali pantai. Berkali-kali kamu membuatku iri dengan foto-foto pantai dan juga ceritamu. “Kita akan bertemu di pulau lain. Tapi tidak kalah cantiknya.” Katamu ketika aku menagih janji untuk membawaku ke pantai. Tak apalah, karena memang kunjunganku ke sana juga masih dalam rangka pekerjaan. Menyelesaikan pekerjaan dan bertemu kamu, suatu perjalanan yang menyenangkan, batinku.

Aku berlayar dari kota tempatmu tinggal hingga ke pulau terpencil tempatku akan melakukan kerja sosial. Kamu berangkat terlebih dahulu karena kamu adalah tim pendahulu. Tiga jam perjalanan yang terasa lebih lama dari tiga jam manapun yang pernah aku lalui. Ini rindu yang membuatku ingin segera berada di situ.

Aku membaca ulang semua pesan singkatmu. Kata-kata rindumu, dan setiap cerita konyolmu yang membuatku semakin rindu. Aku membaca linimasa berharap bisa mengetahui apa yang sedang kamu lakukan di situ. Hanya ada tulisan singkatmu dua jam yang lalu, “Aku akan menjadi orang pertama yang menjemputmu di dermaga itu.”

Dermaga sudah terlihat. Aku mencari keberadaanmu. Ayolah bukankah aku kesini untuk berjumpa denganmu? Kapal merapat dan kau terlihat berlari menyebrangi dermaga untuk menghampiri kapal yang baru saja merapat.

“Hai.” Sapamu singkat. “Akhirnya jadi juga kamu datang.”

Aku hanya bisa mengangguk dan membalas uluran tanganmu. Matamu sibuk mencari seseorang di belakangku. “Dia di sana.” Kataku seraya menunjuk dek kapal. Kamu tersenyum lebar dan bergegas menghampirinya.

Dia yang ingin kamu sambut di dermaga. Dia yang ingin kamu menjadi seseorang yang pertama kali menjemputnya. Dia yang sebulan ini mengisi hari-harimu setelah putus denganku. Dia kekasihmu yang baru.

(2) Comments

  • silouman
    08 Oct 2012

    tak terduga bgd

    • Firah
      11 Oct 2012

      Makasih udah mampir dan komen 🙂

Leave a Comment