“Ma, Aku Gak Mau Praktek.”

Suatu hari ketika sedang beristirahat setelah melakukan penyuluhan, Drg. Dani Firman berkata, “Ketika kita makin dewasa, segala keinginan kita akan lebih mengerucut. Kita tidak akan lagi memikirkan apa yang menurut orang keren, apa yang diinginkan lingkungan, dan lainnya. Yang kita inginkan benar-benar apa yang datang dari dalam diri kita. Jujur dari dalam hati. Andaikan semua orang jujur pada dirinya sejak awal.”

He’s got the point. Semakin dewasa (dan tua), keinginan kita akan menjadi lebih sederhana. Jika sejak kecil kita bercita-cita tinggi, setinggi-tingginya, ketika dewasa yang kita inginkan hanyalah hidup tenang, stressless, dan lebih banyak waktu untuk bersama keluarga.

Kita mungkin kurang sering bertanya pada diri sendiri, apa yang kita inginkan. Bukan apa yang orang lain ingin kita lakukan.

Ketika menjadi dokter gigi kita ingin menjadi dokter gigi yang banyak pasien, memiliki klinik yang bagus dengan penghasilan yang besar. Tentu saja itu impian semua dokter gigi. Ditambah lagi dengan perjuangan kuliah yang berat dan panjang (juga mahal), hidup dalam impian menjadi ‘bayaran’ yang manis. Tapi benarkah itu yang benar-benar kita inginkan?

Suatu hari saya berkata pada mama, “Ma, Firah gak mau praktek.” Saat itu mama hanya menatap saya seolah saya mengatakan hal yang irrasional (minta digigit vampire Twilight, misalnya). Sedetik kemudian ada pancaran kecewa di wajahnya. Saat itu juga saya urungkan niat untuk tidak praktek. Sebaiknya menjadi dokter gigi yang mainstream dan hidup tenang. Tapi ternyata tidak bisa.Saya tidak bisa berbohong pada hati saya.

Sejak awal saya selalu berpikir kalo diri saya aneh. Ketika orang lain ingin memiliki tempat praktek yang bagus dengan antrian pasien yang tidak pernah sepi, saya malah ingin menjadi dokter gigi yang tidak praktek. Saya sangat tertarik pada dunia kedokteran gigi, tapi bukan untuk dunia praktik. Saya membayangkan diri saya ada di sebuah lab, berkutat dengan tabung-tabung reaksi, menguji material dan bahan obat baru, dan menghabiskan waktu untuk tenggelam dalam buku mencari referensi.

Sejak awal saya masuk dunia klinik, saya tahu apa yang saya inginkan, tapi saya tidak seberani itu untuk meninggalkan ‘pakem’ bahwa dokter gigi itu harus praktek. Hingga akhirnya saya bertemu dengan dokter-dokter gigi lain yang juga tidak praktek, tapi tetap bisa ‘living in the dream’. Even a better dream for them.

Tidak perlu sebut sang Anak Singkong, drg yang sukses menjadi pengusaha. Kejauhan, bro! Cukup yang dekat dengan kehidupan saya dan saya kenal dengan baik.

Saya selalu mengidolakan Dr. Kosterman Usri, drg., M.Kes. Beliau seorang dokter gigi yang lebih dikenal sebagai ‘Don King’ dan ‘Adrie Subono’ dunia kedokteran gigi (yang gak tau Don King ama Andrie Subono, googling!). Menjalankan Dentamedia, menjadi staff pengajar FKG Unpad, merangkul mahasiswa-mahasiswa dan mendukung potensi-potensi mereka. Beliau menjalani hal yang dia inginkan, tapi masih di ranah kedokteran gigi juga. Lalu saya menantang diri sendiri, kenapa saya tidak bisa melakukan itu?

Melalui drg. Kos juga saya mengenal drg. Anzarudin. Pak Anzar, begitu saya biasa sebut, seorang dokter gigi yang malah lebih terkenal akan keahliannya di bidang IT.

Lalu ada satu orang lagi yang membuat saya yakin untuk meninggalkan dunia ‘kepraktekan’, yaitu drg. Dita Firdiana. Beliau adalah seorang dokter gigi yang saya kenal dari media sosial. Sang @fairyteeth (id akunnya) total banting setir menjadi seorang social anthusiast, selebtwit, buzzer dan sekarang sekolah lagi di jurusan fashion dan mode. Menjalani impian dan passion-nya.

Bagi saya mereka bukan hanya orang-orang yang sukses mewujudkan impiannya, tapi lebih dari itu. Mereka adalah orang yang jujur terhadap dirinya sejak awal.

So, berani jujur atas apa yang KAMU inginkan?

Damri jurusan Dago-Lw Panjang, 7 Februari 2013

(5) Comments

  • somatognathi
    07 Feb 2013

    Beberapa tmn saya prnah cerita kalau mrk khawatir prktek dimana setelah lulus nanti,apalagi di Bdg yg “kolam”nya kecil tp “ikan”nya bejibun.. 🙂 Plus skrg sudah ada 3 universitas di Bdg dgn program studi dokter giginya..Belum lg tekanan dr ortu yg berharap anaknya jd dokter gigi ya brarti harus praktek..Makin bikin males praktek deh,hehehe…

    Padahal sebenernya masih banyak jalan setelah lulus asal kita mau berusaha..Kalau tidak mau praktek pun ilmu kita di bidang kedokteran gigi tidak akan sia-sia kok..TS hobi menulis?Bisa membuat buku ttg kedokteran gigi..TS hobi mengajar?Silahkan jd dosen..TS hobi bisnis?Anda bisa jual beli alat kedokteran gigi,memanage klinik tanpa harus praktek,dsb..Itu semua hanya sedikit contoh saya rasa,masih banyak hal-hal positif yg dapat kita lakukan setelah lulus,di luar praktek menjadi dokter gigi… 🙂 But that was just my opinion,feel free to do whatever you like… 🙂

    • Firah
      07 Feb 2013

      Wow mangstab! Jadi ini yang namanya komen ga serius. I wonder kalo serius. :))

      Yes indeed, kang dokter. Kedokteran gigi kan basic, untuk penerapan selanjutnya gak hanya jadi dokter gigi praktek aja kita bisa berguna bagi org lain. 😀

  • siqadri
    07 Feb 2013

    #menyimak

    • Firah
      07 Feb 2013

      No junk, comment only :ngakaks :hammer:

      Thank you yaa udah mampir 😀

  • kosterman
    14 Apr 2013

    Praktek tidak praktek bukan untuk Firah pikirkan sekarang, itu untuk nanti ketika sudah lulus dokter gigi. Jadi dokter gigi itu kalau mengutip Mario Teguh untuk memperbesar sendok agar lebih banyak air yang terambil. Jadi dokter gigi itu untuk memberi kebanggaan pada orang tua saat mereka bergaul dengan orang tua lainnya, mertua, dan juga suami. Jadi dokter gigi itu membuat kita punya plan B yang terandalkan bi

Leave a Reply to somatognathi cancel reply