Lilia The Elf

“Jangan pernah dekati Hutan Gillinoth! Hutan itu berbahaya, terutama untuk Elf muda sepertimu.” Larangan itu yang selalu terngiang di telinga Lilia yang runcing.

Semua penduduk kerajaan tau dengan baik larangan itu, seolah-olah peraturan itu telah ada sebelum kerajaan didirikan. Tidak ada penjelasan atas larangan itu. Yang ada hanya berbagai rumor dan berita simpang siur.

“Hutan itu dihuni berbagai macam makhluk kejam yang akan memburumu dan memakanmu hidup-hidup.” Kata beberapa Elf mabuk di bar-bar kumuh.

Beberapa tetua Elf mengatakan bahwa hutan itu adalah tempat di mana para Elf kehilangan kekuatannya. Tapi Lilia tidak percaya begitu saja. Lilia cukup pintar untuk membela diri. Dia sendiri Elf yang memiliki keahlian berburu terbaik dibandingkan dengan kawan-kawannya.

Andai saja Lilia tidak perlu mencari akar Trumuth, sebuah umbi-umbian langka berwarna jingga, dia tidak perlu repot untuk masuk ke dalam hutan menyeramkan itu. Tapi ujian masuk untuk menjadi koki kerajaan akan dilangsungkan tiga hari lagi, dan dia membutuhkan akar Trumuth untuk bahan masakannya.

Untuk ujian nanti Lilia akan memasak sebuah resep kuno yang biasa disajikan untuk para Raja. Resep turun temurun yang hanya diketahui oleh keluarga Lilia.

Kali ini Lilia berdiri di tepi hutan, menimbang keputusan apakah dia akan masuk ke dalam hutan dan mempertaruhkan nyawanya. Sebuah busur dan beberapa alat panah dia siapkan. Di pinggangnya tersemat belati yang sudah dia asah sebelumnya. Tangannya mengelus lembut bilah belati itu dan merasakan dinginnya besi yang ditempa oleh para Elf.

“Aku harus melakukannya!” Ujar Lilia mantap.

Dengan langkah tegap ia memasuki hutan, meskipun jantungnya berdebar keras.

Desiran angin menyapa Lilia saat dia memasuki hutan bagaikan nyanyian mistis. Pohon-pohon besar berumur ribuan tahun menggoyangkan dahan-dahannya. Entah menyambut kedatangan Lilia, entah memperingatkannya untuk tidak memasuki hutan.

Matahari bergerak semakin dekat dengan peraduannya sementara Lilia masuk semakin jauh ke dalam hutan. Namun, dia  tetap belum menemukan akar Trumuth yang dicarinya.

“Mulai gelap, sepertinya aku harus menyerah dan kembali ke kerajaan.” Lilia memperingatkan dirinya.

Lilia berbalik  dan mulai menyusuri jalan yang digunakannya tadi untuk memasuki hutan saat sebuah suara memanggil namanya. Dia terkejut sekaligus ketakutan. Bagaimana mungkin ada elf lain selain dia di hutan ini.

“Siapa itu? Bagaimana kau bisa tau namaku?” Lilia menajamkan matanya dan melihat ke sekeliling.

“Aku Galael . Tetapi kaummu lebih sering menyebutku dengan Roh Hutan.” Kembali hanya suara yang terdengar. Suara itu  bergema  di seluruh penjuru hutan.

“Kau tidak benar-benar ada. Kau hanya ada di legenda.”

Galael tertawa. “Kau benar-benar masih muda. Apakah kau tau semua legenda di kaummu berasal dari hal nyata?”

Lilia menggeleng. Dia tidak begitu yakin suara yang didengarnya benar-benar Galael,  Roh Hutan. Galael hanya legenda. Mungkin saja pemilik suara itu adalah elf lain yang melihatnya masuk hutan dan diam-diam mengikutinya. Dan sekarang menakutinya dengan berpura-pura menjadi Galael.

“Kau bukan elf pertama yang tidak mempercayai kalau aku nyata.”

“Buktikan kalau kau nyata!” Bentak Lilia.  Dia tercengang dengan keberaniannya yang tiba-tiba muncul.

“Lihat tumbuhan di dekat kau berdiri. Bukankah itu yang membuatmu nekat masuk ke hutan ini?”

Lilia melihat ke tanah tempatnya berdiri. Di sana tumbuh Trumuth yang dicarinya.

“Bagaimana mungkin aku tidak melihatnya tadi?” Batin Lilia. Dia tidak habis pikir kenapa tumbuhan itu tiba-tiba bisa ada di sana. Apa suara itu benar-benar milik Galael? Apa Galael bukan hanya bagian dari legenda?

“Kau telah dapatkan apa yang kau cari. Apa ada hal lain yang kau butuhkan? Aku bisa memberikan apa saja yang kau butuhkan.”

Ada banyak keinginan melintasi pikiran Lilia. Jika benar Galael bisa memberikan apa saja, mungkin dia bisa meminta untuk diluluskan ujian menjadi koki istana. Dia tidak perlu takut akan gagal.

“Tidak. Ini sudah cukup. Tujuanku ke sini hanya untuk mencari akar  Trumuth ini.”

“Baik, kembalilah kau ke kerajaan.”

“Sebelum aku pergi, bolehkah aku menanyakan sesuatu?”

“Apa itu?”

“Kenapa hutan ini terlarang untuk dimasuki?”

“Sama seperti elf muda lainnya, kau penuh rasa ingin tau. Tapi maaf, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia di hutan ini.”

“Sedikit  penjelasan tidak ada salahnya kan?”

Lilia menunggu. Tetapi tidak ada lagi suara dari Galael menjawab pertanyaannya. Perlahan dia berbalik dan melangkah kembali ke kerajaan dengan masih bertanya-tanya rahasia apa yang ada di hutan ini.

 

Written by @Zafride and me.

No Comments Yet.

Leave a Comment