Komidi Putar

@Syair_malam: ? @momo_DM; Hatimu riuh pasar malam, rinduku seorang bisu berteriak ingin naik komidi putar.

Di desa, setiap minggu ketiga bulan Agustus, selalu ramai dengan adanya pasar malam. Lapangan seberang rumah Pak Kades akan penuh dengan hingar bingar dan wahana yang berkelip terang oleh lampu warna-warni. Selama seminggu penuh, malam-malam di desa riuh dengan suara musik dangdut, tawa, juga teriakan dari rumah hantu.

Entah sejak kapan tradisi pasar malam selalu hadir dalam menyambut hari kemerdekaan. Sebelum Pak Kades sekarang menjabat, pasar malam selalu hadir di minggu ketiga bulan Agustus.

Tersebut seorang pemuda yang jatuh cinta pada kembang desa. Nama pemuda itu Fachrozi semua orang di desa memanggil dia Oji, seorang pemuda tinggi berbadan tegap dan berkulit gelap dengan senyum menawan dan ginsul yang menjadi pemanis di sudut mulut. Dia selalu bersemangat setiap pasar malam datang.

Sejak dulu Oji melabuhkan harapan-harapan pada kembang desa bernama Dewi. Gadis manis putri Pak Mandor yang sangat menyukai komidi putar. Namun sayang, harapan Oji hanya sebatas harapan. Tak pernah sekalipun dia memiliki keberanian untuk menyatakan rindunya pada Dewi. Sama seperti dirinya yang tidak pernah berani menaiki komidi putar karena takut ketinggian.

Setiap malam saat pasar malam berlangsung, Oji akan menunggu di samping komidi putar. Menunggu Dewi untuk datang dan menaiki wahana itu. Oji akan memandangi Dewi lekat-lekat dan merekam setiap senyum dan binar matanya ketika berada di ketinggian. Binar mata yang ingin sekali dia lihat dari dekat.

Kali ini Dewi datang bersama dua temannya yang lain. Gadis-gadis desa yang menurut Oji terlalu banyak berdandan dan berkedip. Tidak seperti Dewi yang cantik tanpa polesan. Komidi putar membawa mereka naik makin tinggi. Oji tidak ingin kehilangan kesempatan sedetikpun untuk melihat senyum Dewi. Dia melangkah mundur agar dapat melihat paras wajah Dewi dan senyum yang terlukis di sana. Sampailah Dewi di tempat paling tinggi yang bisa di capai komidi putar. Dari tempatnya berdiri, Oji dapat melihat Dewi yang terpana dengan pemandangan yang dia lihat. Senyumnya terkembang.

Saat Oji sedang menikmati pemandangan akan wajah seorang yang ia cintai, saat itulah Dewi menoleh dan menatap lurus padanya. Entah keberanian apa yang ada di benaknya, saat itu juga Oji mengangkat tangannya dan melambai penuh semangat. Mungkin Tuhan sedang tersenyum saat itu, atau mungkin juga restu neneknya sebelum Oji keluar rumah tadi yang membuat Dewi membalas lambaiannya dan tersenyum tersipu.

Cukup satu lambaian dan senyum malu-malu yang di bawa Oji malam itu. Yang membuatnya tidak bisa memejamkan mata tanpa memikirkan senyum Dewi sang tambatan rindu. Kali ini seorang Fachrozi berani melambaikan tangan pada Dewi, seorang kembang desa yang ditaksirnya sejak lama. Mungkin tahun depan, saat pasar malam kembali datang, dia akan menemani Dewi di ketinggian dan menatap binar matanya dari dekat. Jika dia masih belum menaklukan ketakutannya pada ketinggian, mungkin dia akan menunggu di bawah komidi putar, sambil memegangi gula-gula kapas untuk diberikan.

Note:
FF ini dibuat sebagai janji saya pada mas @momo_DM berdasarkan puisi kerennya yang di retweet oleh @syair_malam.
Banyak kekurangan dan kesalahan. Tapi namanya juga masih belajar.. mohon bimbingannya lho, Mas Mo :p
Hope you’ll enjoy it #lopelopediudara

No Comments Yet.

Leave a Comment