Kei

Seharusnya kau datang padaku sepuluh tahun yang lalu. Saat aku tersenyum malu-malu di barisan paling belakang dengan rok lipit bernoda kecap bekas makan tadi siang. Penuh harap senyum itu mengambang di udara. menunggu sambut dari ujung matamu untuk melirikku. Hanya ujung mata saja, karena aku tak mungkin meminta hatimu.

 

Seharusnya kau datang padaku sepuluh tahun yang lalu. Saat aku masih terlalu lugu untuk mendekatimu. Saat aku yakin hariku akan lebih berwarna bersamamu. Bukan hari ini saat daun berguguran dan kita berdiri d bawah pohon beringin tempat pertama kita bertemu ditemani sayup bel pulang sekolah. “Kei. namamu Kei bukan?”

Aku berbalik melihat siapa yang memanggil namaku, meski aku tau itu suaramu. Aku hanya mengangguk, lalu kau menyerahkan sebuah buku tipis dengan sampul kumal. “Nih, makasih ya. Udah disalin PR-nya” lalu kau berlalu meninggalkan tanganku yang masih menggantung di udara. Kau melewatiku meninggalkan seruak harum sabun yang kau pakai tadi pagi bercampur dengan bau keringat dan matahari.

 

Seharusnya kau datang padaku sepuluh tahun lalu. Saat aku mendatangimu, dengan harap yang menjunjung tinggi dan debaran jantung yang tak terkendali. Dengan telinga memerah panas menanggung malu. Kusodorkan air mineral yang masih berembun botolnya. Kau menoleh dengan wajah meringgis menahan sakit. Pelipismu merah dan berdarah. Dipukul Ramli, kata teman-temanmu. Kamu melirik sebentar botol air mineral yang aku serahkan lalu kemudian membuang muka. Aku terluka.

 

Seharusnya kau datang sepuluh tahun lalu. Saat aku menangis memandangi rok lipitku yang terkena noda kecap bekas makan siang tadi.

 

Cemara, 15 November 2016 ditemani Payung Teduh

1 Comment

Leave a Comment