image

Aku duduk termenung menyaksikan air yang tumpah ruah dari langit.

“Ah hujan turun lagi.” Tanpa kusadari kau datang dari belakang. Tanganmu memeluk pinggangku dan hembusan hangat terasa di leherku. Sudah lama kau tak memelukku seperti ini.

Aku selalu suka hujan, mengingatkanku pada dirimu. Seperti hujan yang membuat suasana riuh menjadi senyap. Hanya terdengar desisan air yg mencumbu bumi. Kau seperti itu bagiku. Menenangkan.

Seperti hujan, kau juga tidak terduga. Kadang rintik kecil menyejukan, tapi bisa saja kau menjelma seperti badai. Dengan gemuruh dan petir menyambar-nyambar, membuatku pening karena tak tahu harus berbuat apa untuk menenangkanmu.

Bersamamu aku seperti anak kecil yang selalu riang saat hujan datang. Menunggu rintiknya cukup untuk menari di bawah guyuran hujan. Walau kadang aku harus kecewa karena hujan terlalu deras dan aku harus melihat di balik jendela karena tidak diperbolehkan main hujan oleh ibu.

Rintik hujan masih saja menghujam bumi,dan kau masih terus memelukku dari belakang. Jika aku bisa, aku ingin meminta hujan terus turun seperti ini sepanjang sore. Agar kau juga terus memelukku seperti ini.

Kau beringsut ke sampingku. Tanganmu menggenggam tanganku yang kedinginan, membuatnya hangat tanpa aku minta.

“Lama ya kita tidak begini? Duduk dan memandangi hujan berdua.” Katamu. Aku hanya diam.

Ya,lama sekali tidak seperti ini. Kemarau panjang yang sepertinya enggan berganti shift menjadikan aku terlalu rindu pada hujan. Sama sepertimu yang membuat aku selalu menunggu untuk memelukku dari belakang.

Entah kemana hujan ketika kemarau, mungkin sedang membasahi bahan bumi yang lain. Aku tidak perduli. Yang pasti aku tahu hujan akan selalu datang padaku. Membasahi tubuhku yang lupa membawa payung ketika aku sedang buru-buru.

Share:
Written by firah39
Beri aku hujan, maka akan aku ceritakan. Beri aku bulan, maka akan aku nyanyikan. Beri aku dirimu, maka akan aku berikan jiwaku.