“Kamu Manis, Kataku.” #15HariMenulisFF

Debur ombak memenuhi gendang telingaku, hingga aku tak mendengar apa yang dikatakan oleh Bastian.

“Apa?” Tanyaku minta diulang.

“Kamu manis, kataku.”

“Ah darimana aku tahu itu benar?” Aku menyenggol bahunya yang bersisian denganku sambil tersenyum. “Bisa saja kamu bohong.”

Bastian tertawa, “Aku kan tidak pandai berpura-pura. Lagipula kamu selalu bisa mengetahui jika aku berbohong.”

“Iya, tapi dari mana kamu tahu aku manis?”

“Kamu memang manis, dari setiap sisi pribadimu. Caramu mengkhawatirkan aku ketika aku sakit perut, caramu yang bersusah payah membuatkanku secangkir kopi, bahkan caramu bermanja-manja padaku.”

“Lalu dari penampilanku?”

“Aku tidak pernah menilaimu dari penampilan, tapi jika kamu ingin dipuji karena penampilanmu. Aku akan katakan kamu cantik, tapi tak secantik hatimu.”

Aku sandarkan kepalaku ke bahunya. Senyumku terkembang.

Pasir pantai bermain diantara jari kaki kami yang telanjang. Menggelitik dan kami menikmatinya. Bastian selalu ingat aku sangat menyukai pantai. Setiap detailnya. Udara lembabnya yang membuat kulit lengket, suara debur ombaknya yang pecah di hadang karang, dan anginnya yang berhembus menerbangkan helai rambutku.

“Kita pulang sekarang? Hari nampaknya sudah sore.” Bastian mengingatkan.

Kami pun akhirnya beranjak dari tepian pantai. Saling menuntun. Bastian yang di depan memegang tongkat sebagai mata kami. Terlahir sebagai tuna netra kami tidak pernah melihat wajah masing-masing. Namun cinta kami melebihi batasan fisik, karena kami melihat dengan hati.

Aku manis, katanya. Aku percaya itu, meski dia mencintaiku dalam gelap.

(2) Comments

Leave a Comment