(Inilah) Aku Tanpamu #15HariMenulisFF

Sebuah ruangan serba putih,dan aku duduk menulis. Tidak banyak yang aku lakukan di sini hanya menulis dan menulis. Kebanyakan tentangmu,duh.

Lembaran-lembaran kertas berserakan di mejaku. Menutupi laporan-laporan status pasien yang seharusnya aku kerjakan sejak malam tadi. Tapi otakku hanya berkonsentrasi pada satu titik,dan itu kamu yang meninggalkanku.

Biasanya pagi setelah jadwal aku berjaga malam, ada kamu yang menungguku di kursi tunggu. Memegang sebuah cangkir kertas berisi minuman hangat. Kadang susu coklat, dan sering kali secangkir kopi tanpa gula.

Aku masih ingat setiap detailnya. Harum tubuhmu yang menggelitik indra penciumanku, menetralisir bau obat-obatan yang terlalu banyak aku hirup. Lalu kau akan berdiri tersenyum, menyodorkan cangkir kertas sambil bertanya, “Sudah sarapan?”.

Ah aku rindu pagi-pagi itu. Di mana aku semangat menyambut pagi setelah jadwal malamku. Sekarang aku bahkan tidak keberatan mengambil dua shift jaga sekaligus. Lagi pula di bangsal penuh pasien katatonik dan depresi tidak terlalu merepotkan dibanding bangsal pasien schizophrenic.

Aku nenulis dan terus menulis. Puisi, cerita, atau bahkan hanya coretan namamu. Hanya dengan begitu kau hadir lagi bersamaku. Upaya putus asa untuk menghadirkanmu kembali di sisiku. Lihat,kan bagaimana aku tanpamu? Hancur dan terkoyak.

****

Beberapa perawat lalu lalang. Membiarkan seorang pasien yang sedang menulis kertas-kertas bekas yang selalu dia minta setiap hari. Tidak banyak yang nampak perduli padanya, namun berita yang tersebar mengatakan sebaliknya.

“Kalian tahu pasien itu? Kasihan sekali, dulu dia adalah perawat di Institusi ini, namun karena ditinggal kekasihnya, akhirnya dia sendiri yang dirawat.”

“Dia masih berpikir kalau dia masih perawat yang bekerja di bangsal ini. Kerjaannya hanya menulis dan menulis. Tapi tak apalah. Dia tidak merepotkan.”

1 Comment

Leave a Comment