Ini Bukan Judul Terakhir #15HariMenulisFF

Ada yang berbeda setiap Salimah menyanyi. Meski tanpa lenggak lenggok seksi ataupun pakaian yang mengumbar lekukan pinggang dan dada, semua orang di desa Karang Haur berdesir jantungnya ketika telinga mereka dimajakan oleh suaranya.

Salimah hanya perempuan biasa. Janda beranak satu yang ditinggal menikah lagi oleh mantan suami. Setahun menjadi TKW di Arab Saudi, Salimah beralih profesi. Memutuskan tidak mau berpisah dengan putri semata wayangnya ke negeri para bandar minyak bumi.

Salimah selalu berbuat baik pada tetangga. Tak banyak bicara dan menjauh dari masalah. Hanya saja ada yang membuat ibu-ibu resah. Setiap Salimah naik panggung, para suami mereka rela menyaksikan hingga subuh tiba. Beratus ribu rupiah menjadi sawerannya.

“Pasti pake pelet!” Kata seorang ibu di tengah arisan. Disambut dengan seruan setuju dari rekan-rekannya.

“Iya pasti main dukun. Ga mungkin kalo gak pake mistis.”

Obrolan makin memanas. Rencana-rencana membongkar resep rahasia Salimah disusun berdasar rasa cemburu yang terbakar semakin ganas.

“Saya mau datengin Ki Jaka Cermat! Saya mau bikin suara dia menghilang.” Kata Juminah dengan semangat. Sorakan terdengar dari mulut ibu-ibu lain.

Di balik naungan pohon mangga yang rimbun, Salimah menguping. Hanya bisa tertegun.

-di tempat praktek Ki Jaka Cermat-

“Ki, saya mau minta tolong.. apa bisa dibantu?” Senyum terkembang dari bibir Juminah. Begitu juga Ki Jaka Cermat saat melihat segepok uang yang disodorkan padanya.

-Sebulan kemudian-

Tidak ada lagi nama Salimah yang dielu-elukan para pria saat dia menyanyi. Suaranya hilang, tak lagi bisa mencapai nada-nada tinggi.

Kali ini gelar biduan desa terbaik jatuh pada Juminah. Sang idola baru dengan suara yang membangkitkan gairah.

Suatu ketika saat Juminah beraksi di atas pentas. Para lelaki bergoyang dan Juminah berlenggok bak artis papan atas. “Yak untuk pamungkas, ini lagu terakhir dari sayaaa!” Lalu juminah menyanyikan lagunya. Suasana pun makin memanas.

Di sebuah rumah, Salimah membaca mantra. Sebuah boneka berambut panjang dengan foto Juminah tertempel di wajahnya. Diusapkannya air bunga sambil terus merapal mantra.

“Juminah menyanyi tanpa lelah. Menyanyilah tanpa henti Juminah! Meski bumi dihantam petir, lagumu takkan menemui akhir!” Lalu dipecahkannya sebutir telur ayam kampung, dan sepercik darah ayam di atas wajah boneka.

Hari ini tidak ada perayaan di Desa Karang Haur. Tapi selalu terdengar nyanyian dari sebuah rumah dengan cat hijau yang sedikit luntur. Penghuninya Juminah yang sempat menjadi penyanyi dangdut nomer satu. Sejak hari Juminah naik panggung, mulutnya tidak dapat berhenti bernyanyi bahkan saat dia tertidur.

Orang bilang Juminah kena tulah. Sebagian lagi bilang Juminah tidak lengkap menjalani syarat Ki Jaka Cermat. Tapi Salimah lebih tau apa yang menimpa Juminah.

(4) Comments

Leave a Comment