Hilang

Aku menuliskan sekalimat,namun berulang kali aku tekan tombol backspace. Aku tidak punya ide untuk menulis.

Aku melirik jam dinding yang terus berdetak konstan, setengah satu pagi. Kamu pergi dan belum pulang sedari tadi. Biasanya aku tidak cemas seperti ini, hanya saja sebelum kamu pergi nampak ada sesuatu yang menganggu pikiranmu.

Aku mencari-cari keberadaanmu, berusaha menghubungimu,tapi gagal. Dan aku menyerah sejak satu setengah jam yang lalu. Kemana kamu? Jeritku dalam hati. Aku yakin kamu pasti mendengarnya. Kita terhubung dengan koneksi yang tidak dapat dijelaskan dengan ilmu metafisik biasa.

Jika sesuatu terjadi padamu ini semua salahku. Karena aku yang membuatmu seperti ini,aku yang marah dan menolak berbicara padamu hanya karena hal sepele.

Tadi aku menelponmu berkali-kali ketika kamu sedang bekerja. Merengek-rengek minta kau pulang cepat karena ketakutan. Masih jam 8 malam, tapi hujan turun dengan petir menyambar serta angin yang menderu memukul-mukul kaca jendela rumah kita. Ditambah lagi mati lampu dan sendirian aku makin ketekutan. Aku memang bukan anak kecil. Tak seharusnya aku merengek minta kamu pulang cepat seperti itu. Lagipula rumah kontrakan kita pun tidak terlalu besar.

Sejak kecil aku selalu ketakutan dengan suara petir. Dulu ayah dan ibu selalu menemaniku dan bercerita saat petir terdengar lantang. Sekarang kamu yang menggantikan peran mereka.

Aku memang ketakutan tadi,tapi tidak setega itu menyuruhmu pulang menembuh hujan tanpa jas hujan. “Jangan pulang kalau kamu gak bawa jas hujan. Tunggu saja sampai hujan reda. Awas kalo bandel!” Amcamku yang hanya dijawab singkat. “Iya aku bawa jas hujan kok. Aku pulang sebentar lagi ya?”

Kantormu dan rumah memang dekat,tak sampai sejam dia sudah tiba di rumah. Aku melihatnya basah kuyup dan kedinginan menerjang hujan tanpa jas.

“Maaf,sayang aku bohong. Aku lupa bawa jas hujan tadi.” Kamu tersenyum manis ditambah dengan nada penyesalan.

Aku hanya bisa marah dan merasa dibohongi. Padahal aku tidak mau sesuatu terjadi padanya. Sejak saat itu aku menolak berbicara padamu meski kau berusaha keras membujuk. Dan kamu lelah, berbalik arah menuju ruang tamu. Kamu diam di sana lama sekali sebelum akhirnya kamu mengambil kunci dan berjalan keluar sendirian.

Hujan sudah berhenti dan segalanya sudah tenang kembali, kecuali aku. Aku yang mulai cemas dan panik karena entah dimana keberadaan dirimu.

Sekarang aku mengerti tak seharusnya aku marah padamu. Kamu menembus hujan tanpa jas hujan hanya untuk menemaniku di rumah, karena kamu tau aku takut dengan petir dan gelap. Kamu hanya tak ingin aku khawatir,karena itu kamu berbohong, semuanya karena kamu mencintaiku. Semua yang kamu lakukan memang karena kamu mencintaiku.

Suara kunci terbuka membuatku buru-buru menuju pintu. Kamu datang dengan wajah tak berdosa keheranan melihat aku menangis. Dengan nada khawatir kamu menanyakan ada apa.

Sebuah cerita panjang tentang aku yang mengkhawatirkanmu terucap dariku sambil sesekali diselingi segukan tangis. Kamu hanya tersenyum lebar dan tertawa berderai. “Maaf,sayang karena membuatmu khawatir. Aku hanya beli ini…” dia mengacungkan sebuah keresek yang mengeluarkan harum keju yang meleleh.

“Martabak keju?” Tanyaku.

Kamu mengangguk, “Kamu ada deadline artikel kan? Makanya aku beliin ini supaya kamu ga laper tengah malam. Tadi sewaktu baru sampai di belokan ada bapak-bapak sedang kumpul di pos ronda. Aku gak enak,jadi mampiur dan ngobrol dulu sebentar. Handphone aku lowbatt,sayang.”

Aku hanya mampu memelukmu erat tanpa kata-kata. Kamu memang tak sempurna, tapi caramu memperlakukan aku membuatkuĀ  merasa sempurna.

No matter how hard we fight, tell each other bad words, if you still manage to say ‘i’m so sorry’ at the same day, it called love.

No Comments Yet.

Leave a Comment