“Halo, siapa namamu?” pertanyaan itu mengejutkanku setelah berbulan-bulan tidak ada yang menyapaku. Aku sang penyendiri di kursi pojok paling kanan ruang kelasku. Sejak kecil kakiku pendek sebelah, hingga aku tidak percaya diri untuk bergabung dengan anak seusiaku, tapi aku sangat menyukai sekolah. Aku menyukai untuk belajar memecahkan kalimat matematika, mengetahui sejarah peradaban kuno dan masih banyak yang lainnya.

Aku masih tergagap dan mencerna pertanyaan itu sebelum akhirnya terlontar keluar dari mulutku, “Abigail. Namaku Abigail.”

Pria muda berusia duapuluhan itu tersenyum manis. Baru kali ini aku melihatnya di ruangan kelasku. Beberapa saat lalu ia memasuki kelas dengan langkah yakin kemudian berbicara kepada wali kelas yang menyimak kata-katanya dengan wajah cemas. Setelah satu anggukan, kemudian pria itu menghampiri mejaku diikuti dengan tatapan anak sekelas.

Teman-teman sekelasku berekspresi sama seperti biasa saat mereka melirik ke arahku. Nampak ketakutan. Entah kenapa mereka selalu begitu, seolah-olah aku akan bertingkah liar dan mencekik leher mereka satu persatu.

Hari ini mereka nampak aneh, wali kelasku juga. Terutama setelah post test yang diberikan pagi tadi. Setelah setiap jawaban dari semua murid, beliau biasanya menghitung jumlah lembar jawabannya. Satu kelasku berisi 27 orang termasuk diriku. Seisi kelas mendengarnya menghitung, “dua puluh enam, du..dua puluh tujuh..”

Setelah lembar terakhir, seisi kelas menengok ke arahku, ke arah mejaku lebih tepatnya — karena mereka tidak pernah berani menatap wajahku — dengan wajah terkejut. Entah mengapa. Mungkin mereka merasa bersalah karena sering meledekku karena kakiku. Wali kelasku permisi meninggalkan kelas dan menelpon.

“Abigail, kau suka sekolah?”

Aku mengangguk dengan penuh semangat.

“Bagus.” Katanya. “Kau tahu kan sebentar lagi akhir semester dan semuanya harus pindah ke kelasnya yang baru?”

Sekali lagi aku mengangguk. Sedikit bersedih. Karena aku sudah menyukai kelas ini.

“Dan kau pun harus pindah sebentar lagi. Sekarang juga malah.”

Aku terkejut mendengar kata-katanya. “Kenapa harus sekarang?”. Segala pikiran berkecamuk di kepalaku. Apakah ini yang dibilang ibuku dulu. Jika aku nakal, aku akan dibawa ke sekolah khusus anak nakal. Tidak boleh bersekolah di sini lagi. Tapi seingatku aku tidak pernah nakal.

“Kenapa?” tanyaku, setitik air mata hampir jatuh dari sudut mata.

“Karena kau sudah tidak seharusnya di sini lagi.”

Aku masih berusaha mencerna kata-kata pria itu.dia kemudian tersenyum manis dan menjelaskan maksudnya.

“Kau ingat beberapa bulan yang lalu kau pulang dan menemukan anak kucing yang ketakutan di belokan jalan?”

“Ya. Tapi aku tidak tahu lagi bagaimana kucing itu sekarang.”

Dia mengangguk mengerti kemudian melanjutkan ceritamya. “Pada saat itu ada mobil yang tiba-tiba melaju kencang dan akhirnya kau tertabrak. Kau ingat?”

“Iya, dan aku merasa sakit di sekujur tubuhku. Namun esok harinya aku kembali sekolah seperti biasa. Apa aku melakukan kesalahan? Apa kucing itu tidak selamat?”

“Tidak..bukan begitu. Kau tidak melakukan kesalahan dan kucing itu selamat.”

Aku menghela nafas lega.

”Tapi kau yang tidak selamat. Kamu meninggal di tempat, sayang. Dan sekarang tempatmu bukan di sini lagi.”

Dunia serasa runtuh. Aku melihat wajah temanku satu persatu dan beralih ke tanganku. Ada banyak bekas luka di sana. Tidak mungkin fikirku. Aku berdiri dan ingin berlari. Namun, tubuhku menabrak meja. Alih-alih jatuh terjerembab, aku malah menembus meja begitu saja.

Tidak mungkin yang dikatakan pria itu benar. Aku masih hidup kan?

“Aku masih hidup, kan?” tanyaku. Berharap jawabannya adalah iya. Namun ternyata pria itu hanya tersenyum lesu.

“Kembalilah ke tempatmu. Tempatmu bukan di sini.” Lalu dia mengucapkan sebaris doa.

Aku hanya bisa menangis dan tubuhku menghilang begitu saja seperti asap.

Share:
Written by firah39
Beri aku hujan, maka akan aku ceritakan. Beri aku bulan, maka akan aku nyanyikan. Beri aku dirimu, maka akan aku berikan jiwaku.