Genessa. Part #1 Mimpi

Guntur menggelegar di atas kepalaku, meninggalkan suara berdengung di telingaku. Cahaya kilat menyambar, namun kali iini ada yang salah. Kilat bukan menyambar menyentuh bumi,tapi muncul dari telapak tanganku yang membentang di samping tubuhku memecut langit. Angin berputar di sekitar tubuhku,hujan vertikal membasahi baju yang aku kenakan,membuatnya menempel pada tubuhku.

‘Rave, jawab aku Rave..aku mohon.’ Aku menggapai-gapai dalam benakku. Mencari suara yang selalu aku dengarkan dalam otakku. Mana dia? Mengapa hanya ada keheningan. Otakku berusaha mencari lebih teliti dari setiap sudut ruang fikiranku. Namun hening. Keheningan in sungguh tidak benar. Aku tidak pernah merasakan keheningan seperti ini. Selalu ada dia,kapanpun aku memanggil.

Aku masih berteriak dalam benakku. Berharap dia akan menjawab,meski pelan. Rave..jangan mati. Tidak sekarang.

Amarah dan jeritan kehilanganku mengudara. Tak mungkin ini terjadi pasti ada yang salah. Dia tidak mungkin mati, tidak boleh mati. Namun tubuhnya yang bersimbah darah dan wajah pucat yang tertutup rambut gondrongnya membuktikan sebaliknya. Dia pelindungku, harusnya bukan dia yang mati.

Sekali lagi suara guntur menggelegar dan tubuhku terlonjak. Mimpi. Hanya mimpi,tapi air mataku membasahi pipi dan rasa kehilangan itu masih terasa nyata. Hujan deras turun di luar jendela, langit gelap dan sesekali kilat menyambar. Aku pandangi jam di samping ranjangku,masih pukul 3 dini hari.

Mimpi itu lagi. Mimpi yang sama, rasa sedih yang sama dan rasa panas membakar di telapak tangannya. RJ membenci mimpi itu. Selalu membuatnya lelah dan resah. Dia menarik nafas panjang dan berusah untuk kembali tertidur.

°°°°°°°°°°°°

Seperti musim gugur sebelumnya, hujan turun sepanjang hari di Rye. Matahari belum menampakan diri sejak pagi tadi, membuat udara dingin semakin mengigit menembus jas hujan dan jaket yang dipakai RJ. Dirapatkannya kancing leher jas hujan sebagai usahanya menghalagi angin yang mencoba masuk meskipun nampaknya percuma. Angin dan air hujan hari ini hanya dapat dilawan dengan penghangat ruangan, segelas coklat hangat dan sofa yang nyaman.

Dengan rasa enggan yang luar biasa RJ mengeluarkan sepedanya. Andai saja sekolah diliburkan karena hujan.

“Kau yakin tidak mau diantar? Pamanmu sebentar lagi pulang. Atau kau bisa diantar Eileen. Aku yakin dia tidak akan keberatan.” Tanya bibi Ann sambil mengelis-elus kucing kami, Goethe yang mendengkur pelan di pangkuannya.

“Aku bisa terlambat jika harus menunggu paman Bill pulang dan Eileen berbeda arah denganku. Kasihan jika harus memutar jauh. Jangan khawatir aku bisa berangkat sendiri.”

Sekolahku dan rumah memang tidak terlalu jauh. Tidak ada  yang berjauhan di Rye. Namun jarak sedekat apapun, dengan hujan seperti ini siapapun pasti akan basah sejak kau berada di gerbang rumah.

RJ mengayuh sepedanya di persimpangan Ravenwood dan Hermaid ketika sebuah Chevrolet hitam melaju kencang dan melindas kubangan. Membuat RJ makin basah kuyup.

“Hey! Dasar idiot!” Maki RJ.

Dia memandangi pakaiannya yang sekarang sudah tidak mungkin terselamatkan. Air mulai menetes ke kulitnya, menggelitiknya di daerah-daerah pribadinya.

Harusnya dia tadi tidak usah pergi sekolah saja. RJ membelokan sepedanya untuk pulang kembali ke rumah ketika Chevy hitam yang baru saja melewatinya. Wajah RJ berubah keras.

Jendela mobil itu turun terbuka menampakan wajah yang dikenalnya. Tobias Fernhir. Wajah sombongnya menatap RJ malas-malasan, memberikan sapuan a la juri reality show dari kepala hingga ujung  kaki.

*karena lowbet.. part 1 dulu.  Bersambung setelah nemu colokan ;p*

No Comments Yet.

Leave a Comment