Dingin

Udara di Bandung Barat terasa menggigit tulang, membuat aku sedikit bergidik saat dinginnya menyentuh kulitku. “Kamu kedinginan?” Rayhan menghentikan petikan gitarnya dan menyentuhkan jarinya yang hangat di pipiku.

Aku mengangguk, “Sedikit.” Jawabku. Udaranya tidak sedingin suasana kita sekarang, sayang.

Dia kemudian meletakan gitarnya dan beranjak mengambilkan selimut untukku. “Pakai ini. Supaya kakimu tidak kedinginan.”

Setelah selimut menutupi kakiku dengan rapat dan jaket aku kancingkan hingga menutupi leherku, Rayhan melanjutkan memetik gitar. Dia sendiri hanya memakai celana pendek dan kaos,tapi nampak terbiasa dengan dingin.

Sejak kecil aku memang tidak tahan dingin, lagipula setelah lama menetap di Jogjakarta, aku menjadi terbiasa dengan udaranya yang sedikit lebih lembab. Aku mendengarkan suaranya yang lembut diiringi petikan gitar. Dulu, saat-saat seperti ini yang mendekatkan kami. Dia yang bekerja di Bandung, dan aku di Jogja membuat pertemuan kami yang sebulan sekali menjadi begitu berharga. Tapi sekarang lain.

Mungkin kami perlahan menyerah pada jarak. Tak mampu lagi berdamai dengan keadaan, dan terlanjur terlena dengan kesepian. Komunikasi kami semakin lama makin memburuk, dan kami dihantui oleh masalah paling suram dari sebuah hubungan jarak jauh, komunikasi.

Belakangan ini komunikasi kami hanya seputar sapaan selamat pagi, pertanyaan sedang apa dan sudah makan atau belum. Tidak ada diskusi panjang dan hangat yang jadikan kami mengenal dengan lebih baik. Alasan kami sederhana, kami terlalu sibukĀ  dengan pekerjaan masing-masing. Benarkah kami sesibuk itu? Ataukah itu hanya pembenaran?

Rayhan terus bersenandung sedangkan aku disibukan dengan pikiran-pikiran tentang kami, masa depan hubungan kami. Satu tahun kami saling mengikatkan diri dalam hubungan pertunangan, tapi aku tidak merasa mengenal dia lebih baik dari siapapun. Bahkan aku tidak tahu bagaimana takaran teh yang dia sukai, apa film kesukaannya, bahkan aku tidak tahu bagaimana membuat mi instan sesuai dengan yang dia inginkan. Dia begitu tertutup, dan aku selalu salah menebak apa yang dia inginkan.

“Hey, aku punya lagu buat kamu.” Aku menghela nafas menahan sakit hati karena dipanggil ‘Hey’, namun tetap tersenyum. Tidak bisakah dia ingat aku punya nama? Atau minimal panggilan sayang?

When you open your eyes in a gray sky morning and start to see the sun light.
You smell the air and feel all the care….” dia terus bernyanyi, aku mendengarkan sambil berpikir.

Pikiranku terus sibuk bertanya-tanya, jika aku tidak mengenalnya sebaik itu, apa dia mengenalku sama buruknya? Tahukah dia aku tidak suka makanan manis? Tidak tahukah dia aku paling tidak tahan mendengar orang bersiul? Tahukah dia judul buku favoritku?

Rayhan mengakhiri lagunya. “Gimana?”

“Bagus.” Jawabku singkat. Tak tahu lagi harus berkomentar apa.

Kami terdiam. Begitulah kami sekarang. Hanya ada komunikasi satu arah. Ketika dia menceritakan tentang dunianya, aku hanya bisa mendengarkan. Ketika aku bercerita tentang buku dia pun hanya mampu mendengarkan. Apa dunia kita terlalu berbeda, sayang? Dan kau mulai jenuh untuk berusaha masuk dalam duniaku?

“Yank, apa kamu kenal aku?”

“Kenapa kamu nanya gitu?” Jawaban defensif darinya.

“Aku cuma tanya. Seberapa baik kamu kenal aku?”

Tidak ada jawaban darinya. Aku menatap pemandangan kota Bandung dari kejauhan. yang indah, namun terasa sangat sendu.

Aku kemudian memberanikan diri untuk berkata, “Kamu cerita tentang kamu,donk. Aku ngerasa gak kenal kamu.”

Dia menghela nafas kecewa. “Aku gak mau cerita tentang aku, nanti kamu lupa dan aku kecewa. Biar aja kamu tahu dengan sendirinya.”

Hatiku tersayat sekali lagi. Mual menahan sakitnya. “Ah sudahlah. Aku hanya ingin kita saling mengobrol seperti dulu. Tapi ternyata kamu tidak.”

Aku menyerah. Terserah kamu sajalah, sayang. Lalu kita kembali diam. Entah sejak kapan kita lebih senang diam dan tenggelam dalam hening. Padahal kita bukan orang yang pendiam.

Aku seperti makin tidak mengenalmu. Rayhan yang aku kenal dulu begitu antusias untuk mendengar ceritaku, menanggapinya dengan seruan tidak percaya ataupun cerita serupa yang tidak kalah jenaka. Rayhan yang aku kenal dulu tidak pernah membiarkanku sendiri meski sedanh tidak berada di sisiku.

“Tidur,gih. Sudah malam.” Katamu. Aku mengangguk.

Kau sedang menyimpan gitar ketika sebuah notifikasi pesan singkat masuk ke ponselmu. Pop up pesan menampilkan isinya, ‘Nite :)’, dari seseorang bernama Erin.

Itukah alasanmu menjadi seseorang yang berbeda? Hatiku remuk lagi malam itu. Di dalam kamar,ketika aku benar-benar sendirian, aku mengetikan pesan singkat. ‘Aku mau pulang.’

Baratha membalasku, ‘Hey, what’s up? Having a greate date out there?

Air mata yang aku tahan sedari tadi mulai menuruni pipiku.

Lirik di ambil dari lagu Song Of You dari Echo Threesixty. *tengkyuu say! :D*

Gambar diambil dari sini

No Comments Yet.

Leave a Comment