Cemburu

Tidak ada yang berbeda malam ini. Sama seperti malam-malam biasanya. Kami berkutat dengan deadline masing-masing. Sebagai penulis lepas, ada beberapa artikel yang harus selesai aku selesaikan sebelum tengah hari besok. Sedangkan dia seperti biasa, programmer under pressure yang hanya bisa bekerja jika deadline sudah di depan mata. Aku mengetikkan sesuatu di layar PC-ku dan dia mengerjakan sesuatu di laptopnya sambil terkadang membuka situs jejaring sosial. Kepalanya tersandar di pahaku yang duduk di atas kursi kerja. Sebuah kursi merk chitose yang membuat sakit pinggang jika terlalu lama diduduki.

“Eh? Siapa ini?” Keningnya berkerut dan dia mendekatkan wajahnya ke monitor.

Aku berpaling dari layarku dan beralih ke layar monitornya. Aku memperhatikan ada sebuah mention untuknya dari seorang perempuan. Avatarnya menunjukan wajahnya yang sedang tersenyum manis dan rambutnya yang panjang lurus menutupi tali dress kamisol berwarna ungu tua.  Potongan dadanya rendah, tapi tetap sopan karena tidak memperlihatkan bagian-bagian tubuhnya secara berlebihan. Mention itu berisi sapaan dan pujian serta keinginan untuk berkenalan.

“Siapa itu? Penggemar kamu, ya?” Tanya aku sambil melanjutkan mengetik kata-kata di monitorku.

Selain kesibukannya membangun web, suamiku juga sering mengisi kuliah singkat di beberapa perguruan tinggi dan telah menerbitkan beberapa judul bukunya tentang teori-teori kriptografi. Beberapa kali memang ada mahasiswinya yang menyapa baik secara langsung ataupun di dunia maya. Suamiku tidak tampan, tapi punya karakter yang kuat. Oleh karena itu tidak jarang ada yang tertarik dengannya setelah mendengarnya berbicara di depan publik.

“Enggak tau. Mungkin orang iseng.” Dia menutup tab mention dan kembali berkutat dengan pekerjaannya.

“Lho, kok ga dibalas? Ga sopan,lho.” Aku tahu meskipun dia meneruskan pekerjaannya dan berpura-pura seolah dia tidak peduli, ada rasa penasaran besar yang timbul di benaknya. Dia hanya ingin menjaga perasaanku.

“Ah ga penting. Biar aja.” Jawabnya.

Namun aku memaksanya,”Udah gak apa-apa. Balas aja.”

Dia memindahkan laptop dari pangkuannya dan memutar tubuhnya, sehingga sekarang dagunya menempel di pahaku. “Memang kamu gak cemburu?”

Aku menatap wajahnya dan terkikik sebentar. Wajahnya percis seperti anak berusia 5 tahun yang takut dimarahi karena diam-diam memakan permen padahal telah dilarang. “Ya enggak lah. Buat apa cemburu?”

“Tapi itu kan perempuan yang gak kamu kenal, cantik lagi. Gak takut aku nanti tertarik, gitu?”

“Iya dia cantik. Dan aku gak takut.” Jawabku dengan mantap.

Dia tersenyum sedikit menggoda. “Yakin? Kemarin juga ada yang titip salam ama aku lho, setelah mendengar kuliah singkat aku. Orangnya manis, terus datang dan minta aku tanda tangan buku karanganku.”

Aku hanya menjawab sekenanya, “Oh ya bagus lah kalau kuliah sama bukumu ada yang suka.”

“Iya terus dia minta foto gitu, sambil meluk-meluk.” Lanjutnya. Masih dengan dagu menempel di pahaku.

Aku menaikan sebelah alisku, “Terus kamunya gimana?”

“Ya aku peluk balik. Ama cium pipinya juga buat bonus.” Katanya sambil tergelak, tidak dapat menyembunyikan kebohongannya lebih jauh lagi. Aku menjawil telinganya sebagai balasan telah menggodaku.

“Aah sakit! Hahaha.. Habis kamu ga pernah bisa cemburu. Kapan sih kamu cemburu ama aku? Curiga kalo ada perempuan yang deketin aku.”

Aku pura-pura ngambek karena dibohongi dan dia masih tergelak sambil menciumi pipi dan leherku sebagai permintaan maaf dan tanda berdamai.

“Buat apa aku cemburu?” Jawabku sambil menahan geli karena bibir dan nafasnya menjelajahi leherku. “Aku percaya hanya ada aku di hatimu, dan butuh usaha yang luar biasa untuk membuatmu berpaling dari aku.”

“Wiuh, pede kali,pun!” Katanya

“Tentu saja aku pede. Tidak ada yang bisa mencintaimu sebesar aku, dan tidak ada yang bisa mengerti dirimu sebaik aku. Jadi untuk apa aku cemburu? Lagi pula rasa cemburu hanya dimiliki oleh orang yang sadar karena memiliki kekurangan, makanya dia cemburu pada orang yang lebih darinya.”

“Memang kamu merasa sempurna? Sampai tidak ada orang yang lebih baik darimu?” Dia mengalungkan lengannya ke leherku dan mengecup ubun-ubunku dari belakang.

“Secara fisik tentu saja aku masih memiliki kekurangan, misalnya dengan perempuan yang mention kamu barusan. Tapi kalau soal mencintaimu dan menjadi pendamping hidup, aku yakin tak ada orang lain yang bisa melakukannya sebaik aku.” Aku menjelaskan maksud kata-kataku sambil bangkit dari kursiku dan sekarang kami berdiri berhadapan.

“Kamu mencintai aku bukan karena fisikku,kan? Itu hanya nilai tambah. Kamu mencintaiku karena kita menjadi lengkap ketika bersatu. Lalu untuk apa aku menyiksa batinku dengan rasa khawatir kau akan meninggalkanku karena perempuan lain yang lebih cantik dari aku? Aku hanya perlu membuatmu yakin tidak ada yang dapat membuatmu bahagia selain aku.”

Dia tersenyum lebar mendengar penjelasanku yang panjang. Entah dia mendengar setiap katanya atau tidak, namun dari senyum dan sorot matanya sepertinya dia mengerti maksudku.

“Lalu bagaimana kamu buat aku yakin tidak ada orang lain yang bisa membuatku bahagia selain kamu?” Tanyanya setengah menggoda.

Aku mengecup bibirnya lembut, “Kalau kayak gitu udah yakin?”

Dia memasang mimik wajah seperti sedang berpikir, “Ehm kayaknya belom deh.”

Aku tergelak dan melumat bibirnya sambil menggodanya lebih jauh, “Kalau segitu, cukup?” Kataku.

Dia hanya berkata singkat, “Ah! What the heck…” lalu dia membopongku ke kamar. Masalah pekerjaan kami? Ah itu bisa menunggu sampai besok pagi.

No Comments Yet.

Leave a Comment