Archive

Archive of : Flash Fiction

Noura

Aku ingat ketika aku membuatmu menangis pertama kali. Kala itu kamu menangis tanpa suara karena aku tanpa sengaja memecahkan patung bebekmu yang bentuknya tidak menyerupai bebek. Kamu berubah menjadi makhluk lucu dengan pipi merah, hidung, mata dan bibir bengkak. Pokoknya lucu sekali. Kamu membentakku, tapi tidak ada sumpah serapah...

Kei

Seharusnya kau datang padaku sepuluh tahun yang lalu. Saat aku tersenyum malu-malu di barisan paling belakang dengan rok lipit bernoda kecap bekas makan tadi siang. Penuh harap senyum itu mengambang di udara. menunggu sambut dari ujung matamu untuk melirikku. Hanya ujung mata saja, karena aku tak mungkin meminta hatimu....

Neutrino

Tidak pernah terpikirkan olehku untuk berada di sini, bersamanya. Bukan berarti aku tidak menyukainya, sebaliknya malah. Hanya saja setelah apa yang terjadi beberapa tahun ke belakang, aku masih takjub dengan kehadirannya di sisiku. Dia bisa saja dengan mudah meninggalkanku, karena beberapa kali aku terjatuh, mengulang kesalahan yang sama, bahkan...

Belajar Kepada Matahari

Seharusnya aku belajar menyerah seperti matahari. Dia yang tahu kapan harus muncul, kapan harus bersinar terik, dan yang paling penting, tahu kapan harus menyerah pada langit malam. Begitu seharusnya aku. Aku bisa saja berhenti menunggu saatnya kami bersama dan melanjutkan langkahku. Tapi aku malah menunggu di sini. Seperti dahulu...

Kamu Seperti Hujan

Aku duduk termenung menyaksikan air yang tumpah ruah dari langit. “Ah hujan turun lagi.” Tanpa kusadari kau datang dari belakang. Tanganmu memeluk pinggangku dan hembusan hangat terasa di leherku. Sudah lama kau tak memelukku seperti ini. Aku selalu suka hujan, mengingatkanku pada dirimu. Seperti hujan yang membuat suasana riuh...

Hujan Pagi Ini

Dia duduk di teras sambil mengamati rintik hujan yang turun pagi ini. Sesekali angin dingin membelai kulitnya dan dia bergidik. Sebuah laptop berada di pangkuannya, dia mencoba bekerja. Meneliti tabel-tabel panjang. “Kamu bekerja di luar? Asthma-mu nanti kambuh.” Lelakinya menyampirkan sebuah selimut di bahunya. Dia tersenyum dan menggeleng. “Aku...

Sore Itu Kita Terdiam

Bibir kita terkatup. Untuk pertama kalinya kita tidak dapat bicara satu sama lain, padahal sejak lama kita tidak pernah kehabisan bahan obrolan. Kamu sahabatku. Dua minggu lalu, kamu cemburu, dan aku tak tahu. “Ada apa denganmu?” tanyaku. Kamu hanya misuh-misuh dan memberengut. “Aku sayang kamu, tahu? Pernah kamu terpikir...

Alkisah Puan Dan Tuan

Suatu hari seorang puan duduk bersandingan dengan tuan. Mata sang puan menyiratkan kepedihan. Ada hati yang terbakar disana. Menghembuskan bau sangit yang hanya bisa dihidu oleh hati. Begitulah perempuan. Sifat dasarnya tak mau berbagi, tapi selalu tak berkeberatan memberi. “Kamu cemburu?” Sang tuan bertanya. “Aku? Cemburu? Untuk apa?” Dan...

Ada Orang Mati (Katanya)

Ada orang mati. Jantungnya hilang dari rongga dadanya. Katanya dendam. Katanya karena dia kehilangan kekasihnya. Tidak ada yang tau pasti. Seluruh warga kampung bertanya-tanya. Katanya itu klenik. Katanya itu hanya rasa sedih berkepanjangan karena rindu. Semua orang diam. Tak berani berbicara atau mengungkapkan kecurigaan. Katanya takut ikut kena tulah....

Pindah

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi #FF2in1 yang diselenggarakan oleh @nulisbuku Angin mulai terasa dingin. Menyelusup ke sela-sela pori. “Ini..minum ini.” Uap bandrek panas menggelitik hidungnya. “Kamu mana?” “Aku gampang.” Selalu begitu. Dia mengorbankan apapun demi aku. Sering kali itu membuatku tak enak. Aku menyodorkan gelas yang masih penuh. “Kamu...

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome. & GeekyCube.