Membaca buku Pulang yang saya dapat dari Litbox (by @ikanatassa) membawa saya kembali ke peristiwa awal tahun lalu ketika mengajukan permohonan untuk menikah. Sebagai syarat menikah saya harus menyertakan Surat Keterangan Bersih Diri serta menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai PKI. Di sana memang ada pertanyaan yang menyebutkan ‘bagaimana pendapat anda mengenai paham komunis?’ Atau ‘setujukah jika ada seorang penganut komunis yang menjadi pemimpin?’. Ingin rasanya saya jawah ‘So?’ Komunis atau bukan dia adalah manusia. Seperti kata Ayah Pidi Baiq, “Apapun agamamu, itu urusanmu. Namun ketika kau berbuat jahat pada manusia lain, maka nuranimu lah yang dipertanyakan.”

Yang saya katakan di sini bukan berarti saya mendukung partai komunis, tapi saya menentang diskriminasi yang ditimpakan kepada mereka. Mungkin suatu saat post ini harus dihapus karena dunia saya yang dikelilingi oleh prajurit militer. Namun bukan berarti saya setuju sepenuh hati dengan segala “bersih lingkungan”.

Di akhir cerita bunda Leila juga mampu menyeret saya ke kenangan 15 tahun lalu. *oh my God, am I that old?* masih jelas di ingatan saya ketika peristiwa itu meletus, kami yang bersekolah dengan mayoritas warga keturunan Tionghoa harus dipulangkan lebih awal dengan kawalan.

Kami semua saksi yang belum mengerti betapa mencekamnya saat itu. Kami hanya mengerti orang-orang begitu kesetanan ketika melihat toko-toko elektronik ataupun waralaba. Semua barang habis bahkan bank pun ikut dijarah. Saya bahkan tidak percaya hotel di depan sekolah harus habis terbakar hanya karena pemiliknya keturunan Tionghoa. Pemukiman sekitar menjadi mencekam dan sore itu kami membagi-bagikan sajadah kepada tetangga yang non muslim agar rumah mereka tidak menjadi incaran.

Dari lantai 3 rumah, kami sekeluarga hanya bisa menonton orang-orang lalu lalang sambil membawa kulkas, televisi, bahkan kendaraan roda dua. Dari hati itu saya mengenal satu kosa kata baru: penjarahan.

20 Mei 1998, menjadi ulang tahun saya yang paling mencekam. Novel Pulang mengingatkan saya tentang itu semua. Tentang pertanyaan saya saat itu, mengapa masyarakat keturunan Tionghoa yang menjadi sasaran? Salah mereka kah mereka lebih makmur sementara mereka bekerja keras untuk mendapatkan itu semua. Sedangkan bangsa pribumi yang menjadi pejabat makmur denga uang yang dipertanyakan kehalalannya.

Share:
Written by firah39
Beri aku hujan, maka akan aku ceritakan. Beri aku bulan, maka akan aku nyanyikan. Beri aku dirimu, maka akan aku berikan jiwaku.