Batu dan Harimau Putih (?) : Astral

Kegelapan begitu pekat, udara dingin menusuk dan aku sadar aku berjalan tanpa alas kaki.

Meski aku tak membawa penerangan, seolah ada lingkaran cahaya yang menunjukan kemana aku harus berjalan. Tempat ini asing, seperti hutan belantara yang ranting pohonnya berlomba menutupi jatuhnya cahaya.

Aku tiba di sebuah lapangan yang dikelilingi pohon besar berakar menonjol di atas tanah. Tapi tidak ada yang sebesar pohon di sisi kanan lapangan. Pohon kuno dengan kulit berbongol dan sulur yang menjuntai. Aku terpesona dengan ukurannya yang luar biasa dan mulai mendekat.

Baru saja aku memulai langkah, ada suara yang memanggil, “Jangan kesana!”

Sebuah cahaya berpendar tiba-tiba muncul. Silau dan aku berupaya menyipitkan mataku agar bisa melihat lebih jelas. Dan di sanalah sosok itu, berdiri anggun di samping batu besar dengan bulu putih yang bersinar dan loreng hitam tanpa cela.

“Ikut aku!” Pintanya tegas. Aku menggeleng.

Biarkan aku di sini dulu. Aku belum pernah ke sini, jadi sepertinya aku akan melihat-lihat.

Raungan terdengar dr sosok itu, membuatku terlonjak dan menciut. Dia berjalan mendekat ke arahku. Sekarang aku bisa melihat sosoknya dengan lebih jelas, matanya berkilat galak dan aku mundur selangkah lagi.

“Ikut denganku, di sini tidak aman untukmu.” Kali ini suaranya lembut dan memohon. Serat-serat kekhawatiran membalut kata-katanya.

Siapa kamu? Kenapa kamu menolongku?

Tapi dia tidak menjawab. Kenapa sih, makhluk astral seperti kalian susah sekali diajak bicara? Bisanya hanya mengomel jika kurang sesajen atau ada yang kalian tidak suka.

Dia menyundul tanganku lembut, “Ayo cepat, kamu sudah terlalu lama di sini.”

Hey, terlalu lama bagaimana, lima menit saja belum. Aku menggerutu, tapi tetap menurut. Ku rasa dia tidak jahat.

“Jangan pernah ke tempat ini lagi. Berjanjilah.”

Iya aku berjanji. Tapi aku tidak ingin kembali ke sana. Aku lelah.

Sayup aku mendengar namaku dipanggil. Begitu pelan hingga terdengar seperti bisikan. Tidak..aku tidak mau kembali ke sana.

Potongan-potongan memori berkelebat hadir. Seperti sebuah film rusak yang minta di ganti. Aku melihat diriku, menangis, berdarah, terluka. Seketika nyeri menghantamku begitu kuat hingga aku tersungkur berlutut.

“Lawan! Jangan kalah. Kau harus pulang.”

Aku tak punya rumah. Aku tak bisa pulang. Aku menangis putus asa.

Sosok itu menerjang tubuhku, meraung di atas tubuhku yang terlentang. “Lawan! Pulang!”

Lalu sebuah cakaran menghantam tubuhku. Sakitnya luar biasa dan aku merasa jatuh.

Seseorang memanggil namaku. Lamat-lamat dengan nada yang putus asa. Mataku terbuka perlahan. Kali ini tidak lagi gelap. Terang dan udara lembab yang panas menyambutku. Aku pasti tadi bermimpi.

Kamu tersengal, peluh membanjiri wajahmu. Tak pernah aku lihat kau secemas itu. Dari matamu masih ada sisa tangisan, tapi aku tak tahu untuk apa dan mengapa.

“Kamu kenapa?” Tanyaku. “Aku bermimpi.”

“Apa yang kamu lihat?”

“Batu besar dan harimau putih.”

Dengan nafasnya yang masih tersengal, dia menjelaskan. “Kamu ‘hilang’ dan kita tadi bergelut.” Tanggannya terjulur dan menunjukan sisa cakaran di kulitnya. “Sekarang kamu kembali.”

*tulisan absurd memang. Karena hingga sekarang aku belum benar-benar ingat detailnya. Thanks for bring me home that nite.

(2) Comments

  • suton
    12 Oct 2014

    Oh.. ternyata Firah hanya mimpi ya?

    • Firah Aziz
      15 Oct 2014

      Hmmm bisa mimpi. Bisa tidak. Silahkan imajinasikan sendiri. Itu asiknya fiksi, bukan?

Leave a Comment