#RasaPelangi

suatu hari kau pernah bertanya padaku. di suatu malam ketika dingin mengigit dan hujan menyapa bumi. tidak ada bintang yang terlihat tapi itu tidak menyurutkan kita untuk nikmati malam di pinggir kolam, di belakang rumahku.

kita duduk berdampingan. berbicara dan aku sesekali menyanyi pelan. aku tidak pernah berani menyanyi di depanmu, karena kau pasti bilang suaraku jelek. yah memang aku terlahir tanpa bakat seni apapun. buta nada maksimal.

kau ingat malam itu, bukan? kalau tidak juga tak apa. wajar karena mungkin saat ini hari itu tidak berarti apa-apa.

aku juga tidak ingat semuanya, aku hanya ingat suatu waktu di malam itu kau bertanya, seperti apa cintaku.

aku berfikir sebentar. mencari satu kalimat pengandaian yang tepat. aku tidak mau salah bicara, karena pasti akan menjadi suatu debat panjang yang tidak penting. aku tahu sifatmu dengan baik.

akhirnya aku menjawab. cintaku seperti kopi pahit panas.

kau bingung lalu aku menjelaskan. bagiku memang seperti kopi pahit panas. yang ingin kau sesap setiap harinya untuk menjernihkan pikiranmu dari segala rasa kantuk yang menyerang, asupan energi setiap pagi. hal pertama yang mengecup bibirmu setelah membuka mata.

kopi hitam yang pahitnya merayu inspirasi untuk membelai sadar. yang harumnya memanjakan indera untuk lebih peka. kopi yang selalu kau minta jika bisa. kau menerima alasanku. dan berhenti bertanya. tapi tahu kah kau bahwa ada satu alasan lagi yang tidak aku katakan padamu?

mengapa aku ingin menjadi kopi bagimu? karena ketika suatu saat kopi itu habis kau reguk, masih terendap di dasar cangkirnya. ampas kopi yang menyebabkan secangkir air bening menjadi berwarna dan menebarkan harum. sama seperti apa yang aku rasakan. meski suatu saat kau merasa sudah hilang dahaga, dan tidak butuh aku lagi, cintaku tak kan benar-benar habis. masih akan terus terendap. bersisa dan masih ada meski kau tak sadar.

(scene Asha dan Satria)

No Comments Yet.

Leave a Comment