Aku Benci Kamu Hari Ini

“Polos atau yang berulir?” Fabian menghentikanku dari lamunan.

“Eh?” aku kembali ke bumi. Memperhatikan dua buah cincin yang ada di tangan Fabian. Apapun pilihanku tidak penting. Aku terlanjur sakit. Cincin itu bahkan tidak akan pernah aku kenakan.

“Coba lo pake dulu deh. Biar keliatan yang mana yang lebih bagus.” Katanya seraya memakaikan cincin itu ke jari manisku. Satu di tangan kiri, satu lagi di tangan kanan.

Nafasku tercekat, melihat pendar berlian di tengahnya. Cantik. Keduanya cantik di jariku, terutama jika kamu yang memakaikannya, Fabian.

“Bener kata gue. Yang ulir lebih cantik kayaknya. Ya gak?” nada bicara Fabian polos dan tanpa rasa bersalah.

Ingin rasanya aku tampar wajahnya dan memakinya di depan umum. Kenapa harus aku yang dia ajak untuk membeli cincin tunangan yang akan dia gunakan untu melamar kekasihnya. Apa dia tidak tahu selama ini aku memendam perasaanku?

“Iya lebih cantik yang ulir.” Kataku lemah sambil menatap cincin di jari manis kiriku.

Fabian membayar sejumlah uang dan mengantongi kotak cincin dengan wajah berseri. Bahagia sekali wajahnya. Ah wajah yang selama ini aku pandangi diam-diam.

“Jadi lo ngelamar pacar lo besok?” akhirnya kata-kata itu meluncur keluar dari mulutku.

“Jadi dong!” katanya mantap.

“Kenalin gue ama pacar lo dong. Kan kita udah setahun jadi partner kerja, tapi belom sekalipun gue liat pacar lo.”

“Hmm.. not yet, baby. Nanti kalo dia udah jawab lamaran gue, baru mau gue kenalin ama dunia.”

Hatiku kembali teriris. Perih. Aku benci kamu hari ini, Fabian. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku membencimu begitu besar.

Keesokan harinya Fabian menelponku. Suaranya terdengar sedih dan takut. “Ra, lo bisa ke sini?”

Mendengar suranya yang memelas aku langsung memacu kendaraanku ke restoran tempat dia berada sekarang. Tanpa perduli apa pakaian yang aku kenakan, aku langsung memasuki ruangan tempat meja-meja berpenerangan lilin berderet rapih. Tidak salah Fabian memilih tempat ini untuk melamar kekasihnya, tempat yang sangat romantis.

Seorang pelayan berpakaian rapih menghentikan langkahku. Aku menyebutkan nama Fabian, dan dia mengangguk. “Mbak Tiara, bukan?”

Bagaimana dia mengetahui namaku? Tapi aku tidak ambil pusing. Fabian membutuhkanku saat ini. Apa yang terjadi? Mengapa dia terdengar begitu sedih? Apakah lamarannya di tolak?

Aku mendapatinya sedang duduk seorang diri di kursi dekat kolam. Kursi berpemandangan luar biasa indah. Sungguh Fabian menyiapkan segalanya dengan sempurna, tapi bagaimana mungkin lamarannya ditolak? Apakah kekasihnya tidak datang?

“Ada apa?” tanyaku.

Dia mengangkat wajahnya, tersenyum lega dan berkata, “Aku pikir kamu tidak akan datang.”

“Tentu saja aku datang, kenapa?” tanyaku dengan nada khawatir.

“Tidak hanya saja aku ingin memberikanmu ini.” Dia menyodorkan sebuah kotak berisi cincin.

Aku menatapnya tidak percaya. “By the stars on the sky tonight, would you let me be yours?” pintanya seraya berlutut di sampingku. Dari panggung di pojok ruangan sebuah alunan biola mengumandangkan lagu “Janji Suci”.

Beberapa pelayan dan pengunjung restoran menahan nafas menunggu jawabanku. Sedangkan aku? Berlinang air mata dan tak mampu ucapkan kata-kata, hanya mengangguk dan memeluk Fabian erat.

Aku benci kamu hari ini Fabian, karena telah menipuku. Tapi aku akan mencintaimu selama sisa hidupku dan selanjutnya.

(2) Comments

Leave a Comment