Ada Dia Di Matamu #15HariMenulisFF

Kami mengobrol dan tertawa, bahkan sesekali terbahak. Duduk bersisian menyandar pada dua buah bantal besar. Pemandangan apartemenku menampilkan permainan kerlip lampu kota. Udara dingin di bulan Desember tidak menyurutkan keinginan kami menikmati semangkuk besar es krim.

“Gila ya, udah lama banget kita ga kayak gini.”

Sahabatku, Di, mengangguk dengan mulut penuh es krim. “Lama banget!”
Lalu jeda sebentar. Hening. Kami sibuk menjelajahi waktu-waktu yang terlewat.

“Kami akan menikah akhir tahun ini.” Di membuka percakapan. Akhirnya muncul juga topik ini setelah beberapa waktu kami menghindarinya. Yah Di akan menikah dengan Andres, pria yang aku cintai sejak lama. Cinta segitiga yang akhirnya berakhir dengan cintaku yang harus mati. Andres memilih Di. Tidak ada yang salah, hanya aku yang salah karena tidak pernah mengatakan perasaanku yang sebenarnya pada Andres.

“Betulkah? Selamat!” aku berpura-pura terkejut. Padahal aku tahu ini semua hanya tinggal menunggu waktu.
Di tersenyum kecut, ada rasa bersalah di sorot matanya ketika aku memeluknya. Aku ikhlas melepaskan Andres. Di memang pantas mendapatkannya.

Aku beranjak dari tempat dudukku menuju bar kecil di sudut apartemen. Mengambil sebotol anggur merah dan dua buah gelas tinggi. Hatiku sakit, berdarah memerah seperti anggur yang ku tuangkan ke dalam gelas.
Delapan tahun kami bersahabat, aku selalu menjadi pihak yang mengalah. Di sudah seperti adik bagiku. Tapi Andres, itu hal lain lagi. Aku harus ikhlas meskipun ingin rasanya aku merebut Andres saat itu juga, dengan cara apapun. Apapun.

Aku melirik ke arah pisau daging yang tergelatak di meja dapur. Tak jauh dari tempatku sekarang.
“Sharon,” panggil Di. Aku berbalik dan terkejut…

*****

Darah menggenang di kakiku. Warnanya merah pekat seperti warna kesukaanku. Tubuhnya terbujur kaku. Matanya masih membelak ketakutan meski tubuhnya sudah tidak bernyawa lagi.

Akhirnya aku memiliki Andres sepenuhnya. Tidak ada orang lain yang boleh merebutnya dariku. Meskipun kau adalah sahabatku.

“Kau tidak boleh memilikinya, Sharon. Andres adalah milikku. Hanya milikku!”
Aku meraih pisau daging di atas meja dapur. Mencungkil kedua bola matanya yang terbuka tepat di bawah lubang peluru yang aku sarangkan ke kepalanya.

“Kali ini aku ambil matamu. Ada Andres di matamu selama ini, bukan? Kali ini Andres sepenuhnya milikku.”

No Comments Yet.

Leave a Comment