A Book Review: Pulang. Sebuah Novel By Leila S. Chudori

29 JULY 2013, 12:09 AM
Judul Buku: Pulang Sebuah Novel
Pengarang: Leila S. Chudori
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal: 461 halaman

Entah harus darimana saya ceritakan tentang buku ini. Entah dari covernya yang ‘kolot’ dan sangat ke 60-an, dari gaya penceritaannya yang cerdas, atau dari betapa kontroversialnya topik yang diangkat oleh penulis. Karena bagi saya kekuatan buku ini sungguh berhamburan dan mengajak pembacanya bercinta dengan memori bersejarah bangsa ini, setidaknya saya merasa begitu.

Buku dengan cover berwarna kuning dan sketsa tangan terkepal ini mengingatkan saya pada poster-poster di film perang dengan setting tahun 60-an karena memang begitulah setting buku ini. Berbicara tentang peristiwa sejarah Gerakan 30 September di Indonesia, penulis meramu dua tragedi berdarah Indonesia menjadi setting sebuah romantisme yang bergelora. Gaya penceritaannya yang baku menjadi sebuah kucuran air segar bagi dunia sastra Indonesia yang sekarang lebih bangga menggunakan istilah Metropop dan menjajakan kemewahan. Saya menyukai bagaimana penulis menggunakan kata ganti pertama orang dengan kata ‘saya’ bukan ‘aku’ yang terdengar lebih egois ataupun ‘gue’ yang norak lebih gaul.

Menurut saya buku ini juga keluar dari pakem buku kebanyakan yang mengisahkan satu atau dua tokoh utama yang berjalan beriringan hingga ke akhir cerita. Buku ini berawal dr menceritakan kisah Dimas Suryo sang eksil Politik yang ditolak oleh negerinya dan berganti menjadi sebuah kisah Lintang Utara di pertengahan. Kisah mereka seperti suatu rangkaian listrik seri yang menyenangkan untuk dirunut hingga akhir.

Meskipun novel dengan latar belakang sejarah sering kali berat untuk dicerna, tetapi cerita petualangan seorang Dimas Suryo dan tiga sahabatnya (Nugroho, Risjaf, dan Tjai) yang tidak diakui negaranya sendiri karena dituduh terlibat Gerakan 30S ini sangat menyenangkan untuk dibaca. Setelah dicabut kewarganegaraannya dan berkelana ke sana kemari akhirnya mereka terdampar di Prancis, tempat mereka akhirnya menemukan cintanya di saat mereka kehilangan tanah airnya. Dari awal pembaca diperkenalkan pada peristiwa G30S dengan jelas sehingga bagi pembaca yang lahir jauh sebelum peristiwa itu terjadi atau masih terlalu kecil saat orde baru berlangsung, detail setting ini sangat membantu. Di tengah cerita, pembaca akan mengalami perpindahan ‘microphone’ karena tokoh utama berganti menjadi seorang Lintang Utara, anak perempuan Dimas Suryo yang lahir di Perancis dan merindukan tanah air yang tidak pernah dikenalnya. Seperti perpanjangan cerita dari masa lalu. Kisah ini berbicara tentang persahabatan, cinta dan juga patriotisme.

Bunda Leila S. Chudori (aq panggil beliau bunda karena seumur dengan mama saya :)) menceritakan dengan detail peristiwa sejarah dan juga menggeser sudut pandang cerita menjadi ke arah yang berbeda. Ada pesta nostalgia di pemaparan ceritanya juga begitu banyak romansa yang membuat jantung berdesir dan enggan meletakan buku untuk berhenti membaca.

Settingan cerita yang mengambil peristiwa sensitif membuat saya bertanya sendiri, andai saja buku ini beredar saat pemerintahan Orde Baru, entah bagaimana nasib sang penulis. Detail sejarah yang menakjubkan, kekuatan karakter yang membuat kita jatuh cinta pada tokoh-tokohnya, dan metafora-metafora cantik adalah sebuah daya pikat yang tidak dapat ditolak.

No Comments Yet.

Leave a Comment