Beyond The Love

Suara musik memekakan telinga, lampu-lampu bergemerlapan, dan tubuh kami yang bergerak terus menerus. Lelah kami hilang di bawah pengaruh kristal shabu dan alkohol. Kami bergerak mengikuti irama musik dan hentakannya yang keras. Kami di puncak dunia!

Entah berapa lama kami berada di lantai dansa. Hanya menepi untuk meneguk sloki demi sloki minuman.

“Hey,my Queen, i love you!!” Teriak Rega berusaha mengalahkan musik yang keras.

Aku hanya tertawa dan menciumnya di bibir penuh gairah.

Kami pulang hampir pagi, tapi energi kami masih penuh. Adrenalin kami masih meminta untuk terus dipompa. “Tambah gasnya!” Teriakku pada Rega. Dia hanya tertawa dan memacu mobilnya lebih cepat.
°°°°

Tanggal sebelas besok adalah hari jadi kami. Aku sudah mempersiapkan segalanya sejak sebulam yang lalu. Aku akan memasak. Selama ini aku tidak pernah memasak untuk Rega. Selama empat tahun kami berpacaran belum pernah sekalipun aku memasakan sesuatu untuknya. Dia bilang aku memanaskan air tanpa gosong saja sudah merupakan prestasi.

Tapi kali ini tidak. Sejak dua minggu yang lalu aku sudah berusaha keras belajar masak. Awalnya entah apa rasanya masakan yang aku buat. Tapi setelah dua tiga kali mencoba rasanya sudah mulai dapat diterima oleh lidah. Bentuknya pun sudah terlihat lebih manusiawi.

“Gimana? Enak gak?” Aku bertanya pada Dara, teman satu kostku.
“Yuck, kagak! Tapi dari pada makanan tuyul yang  lo bikin kemaren udah masih mending lah. Meskipun ini keasinan.”

Aku menghela nafas kecewa, padahal aku sudah pede dengan usahaku kali ini. “Emang buat apaan sih lo niat amat masak? Lo lagi pdkt ama cowo baru yah?”

“Enak aja!. Di hati gue cuma ada Rega.”

Kali ini malah mimik Dara yang berubah. “Lo segitu sayangnya ama Rega?”

“Iyess doonk,bebih!” Aku tertawa mendengar pertanyaannya. Di dunia ini tidak ada pasangan sempurna. Tapi aku dan Rega saling menyempurnakan.

Aku dan Rega adalah satu orang dalam dua tubuh berbeda. Tidak sulit menyesuaikan diri satu sama lain karena kami memiliki selera dan pandangan yang sama atas segala sesuatunya.

Kami sering mengahbiskan malam-malam dengan bersenang-senang ditemani kristal putih dan mabuk dalam pengaruhnya. Kadang kami menghangatkan malam dengan berbalut dosa. Tapi kami tidak jarang terlibat diskusi-diskusi serius mengenai filosofi,politik dan hukum. Kami bukan orang yang munafik. Kami hanya memanfaatkan masa muda kami.

“Tapi Rega kan..” kata-kata Dara aku potong begitu saja.

“Ah gue kenal siapa Rega. Mau orang bilang Rega ga baik buat gue, gue gak oerduli. Buat gue Rega adalah pasangan paling tepat.” Itu pernyataan, bukan pendapat yang bisa dibantah. Dara hanya terdiam dan kecewa.

Aku sudah tahu sejak dulu, Dara memiliki rasa yang sama pada Rega. Dia juga menyukai Rega,namun sayangnya Rega memilihku. Aku juga tahu Dara pernah mencoba merayu Rega, tapi aku tetap menang, hingga akhirnya dia menyerah.

Aku kenal Rega. Meskipun dia bukan tipe pria baik-baik, tapi dia setia. Tidak akan mudah tergoda apalagi dengan wanita seperti Dara.

Keesokan harinya aku menemukan sebuket bunga di meja kerjaku. Pasti Rega,fikirku saat membuka kartunya. Sudah lama Rega tidak mengirimiku bunga. Padahal dulu dia sering memberi kejutan-kejutan kecil. Pasti karena kesibukannya belakangan ini.

‘Hope you like it. Tama.’

Ternyata Tama. Rekan kerjaku di bagian kreatif. Aku sudah tahu dia memendam rasa. Bahkan beberapa minggu belakangan ini dia mulai berani mengirimiku bunga bahkan mengajakku makan malam. Tentu saja aku tolak karena aku masih bersama Rega.

“Kamu sudah terima bunga dari aku?”

“Iya, udah. Makasih ya?”

“Jadi kamu terima tawaran makan malam aku?”

“Maaf, Tam, aku ga bisa. Apa kata orang nanti kalau aku jalan sama kamu? Lagipula aku ga mungkin jalan sama cowo selain Rega.” Kali ini aku habis kesabaran. Aku menolaknya secara terang-terangan.

“Tapi kamu ga boleh bergantung terus sama Rega. Kamu harus move on.”

Oke, cukup. Itu sudah keterlaluan. Aku naik pitam dan akhirnya berteriak, “Lo ga usah ikut campur urusan gue ama Rega. Kami baik-baik aja, dan selamanya akan begitu. Ambil semua mawar dari lo. Gue ga butuh dan ga tertarik! Di mata gue cuma ada Rega!”

Tama hanya terdiam. Mungkin terkejut dengan reaksiku. Ada apa dengan mereka semua. Mencoba ikut campur urusan aku dan Rega. Pastilah mereka hanya ingin memisahkan kami. Tidak mungkin terjadi. Aku dan Rega,selamanya. Tidak akan ada yang bisa memisahkan kami.

°°°°°°°°°°°°°

Hari ini hari jadi kami. Aku sudah mengirimkan belasan sms untuk mengingatkan Rega. Hari ini, di atap tempat kami biasa berdua. Sudah terlalu lama kami tidak menghabiskan waktu bersama.

waktu hampir menunjukan pukul 8. Rega terlambat. Tidak biasanya dia terlambat. Makanan yang aku buat sudah dingin dan aku cemas. Hatiku takut terjadi sesuatu pada Rega. Karena smsku tidak ada balasnya.

Dara dan Tama menghampiriku di atas atap. Apa yang mereka lakukan? Dasar tukang ikut campur urusan orang.

“Kalian ngapain di sini? Gue lagi nunggu Rega. Bukan kalian.”

“Sandra, lo ga boleh gini terus. Lo harus terima kenyataan.” Dara mencoba mendekat padaku. Matanya berkaca-kaca.

“Kenyataan apa maksud lo?”

“San, lo harus terima kalo Rega udah ga ada. Rega udah meninggal, San.” Kali ini Tama yang bicara karena tangisan Dara sudah mulai tumpah.

“Gak mungkin! Rega ga mungkin meninggal.” Aku melangkah mundur. Menghindari sentuhan maupun tatapan mereka.

“Rega meninggal karena kecelakaan waktu kalian pulang pesta. Dia nabrak pembatas jalan dan kalian berdua koma. Sayangnya Rega gak bisa bertahan.”

Aku limbung. Tidak siap dengan apa yang aku terima. Perlahan aku mulai melihat potongan-potongan kejadian seperti pada pita film yang terlalu sering di putar.

Saat itu kami mabuk, dan aku memintanya untuk menambah kecepatan. Kami tertawa dan tidak menyadari kami melanggar lampu merah. Tepat pada saat motor melontas kencang dan akhirnya kami membuang stir. Terakhir yang aku ingat hanya cahaya gelap.

Tidak mungkin..bagaimana aku bisa melupakan hal itu. Bagaimana mungkin Rega bisa aku lupakan? Padahal selama ini aku selalu mengingatnya.

“Dokter bilang lo belum menerima keadaanya. Sampai lo mengalami delusi.”

Aku hanya dapat menangis. Baru kali ini aku merasa kehilangan dan menyadari aku tidak akan bertemu Rega lagi.

Written for @nulisbuku’s project.
Inspired by “So Far Away – Avanged Sevenfold”

No Comments Yet.

Leave a Comment